Blogroll
Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Mei 2016
Jumat, 13 Mei 2016
Kamis, 12 Mei 2016
Rabu, 11 Mei 2016
Rabu, 06 Mei 2015
Full Result International Tour de Banyuwangi Ijen Stage I
Minggu, 03 Mei 2015
Gelar Tour de Ijen, Banyuwangi Usung 'Sport Tourism'
Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Banyuwangi siap menggelar International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI)
pada 6-9 Mei mendatang. Mulai hari ini, Minggu (3/5), para pembalap dari
27 negara mulai berdatangan ke kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu.
"Dalam satu atau dua hari ini, para pembalap dan krunya akan mulai berdatangan ke Banyuwangi. Hari ini, ada tim dari Singapura, Australia, Malaysia, dan beberapa lagi yang sudah datang," ujar Chairman ITdBI, Guntur Priambodo, dalam siaran persnya, Minggu (3/5).
ITdBI sendiri, jelas dia, merupakan ajang balap sepeda yang sudah masuk agenda rutin (calendar of event) Persatuan Balap Sepeda Internasional Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI) dan diselenggarakan tiap tahun sejak 2012.
Tahun ini, ITdBI diikuti para pebalap dari 27 negara, antara lain, Perancis, Belanda, Kolombia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Italia, Jepang, Singapura, Thailand, Iran, Spanyol, Filipina, Malaysia, Filipina, Australia, Korea, Tiongkok, Thailand, Selandia Baru, Rusia, Portugal, Taiwan, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Hongkong, dan Indonesia.
Ajang ITdBI, kata Guntur, merupakan perwujudan dari konsep sport tourism yang mengemas pengembangan pariwisata dalam balutan olahraga.
"Untuk memperkuat konsep sport tourism, rute yang dilalui para pembalap adalah rute yang sekaligus bisa mempromosikan destinasi wisata. Para pembalap melewati rute yang berdekatan dengan sekitar 15 destinasi wisata mulai dari wisata pantai, perkebunan, pegunungan, hingga wisata kota," jelasnya.
Dengan melewati berbagai kawasan dan rute yang bervariasi, kata Guntur, para pembalap akan ditunjukkan keramahan warga dan keindahan alam Banyuwangi. "Demikian juga wisatawan yang datang bisa sekaligus berwisata ke destinasi terdekat dari rute yang dilewati," tambahnya.
ITdBI tahun ini menempuh empat etape dengan total panjang rute sejauh 555 kilometer. Rute ini ditempuh dengan mengelilingi wilayah Banyuwangi dan dipuncaki dengan berpacu mendaki Gunung Ijen, gunung berapi aktif yang terkenal di dunia dengan fenomena api biru (Blue Fire).
Seiring dengan peningkatan kualitas, sejumlah perubahan pun akan dilakukan pada penyelenggaraan ITdBI tahun ini. Di antaranya memperkuat paduan aspek sport, lifestyle (gaya hidup), budaya, dan hiburan.
"Tiap hari di garis finish akan kami suguhkan beragam budaya, produk-produk hasil karya masyarakat Banyuwangi, hingga beragam atraksi kreatif anak muda. Mulai dari sepeda free style, skate board, hingga parade sepeda onthel," tambah Guntur.
Beritasatu
"Dalam satu atau dua hari ini, para pembalap dan krunya akan mulai berdatangan ke Banyuwangi. Hari ini, ada tim dari Singapura, Australia, Malaysia, dan beberapa lagi yang sudah datang," ujar Chairman ITdBI, Guntur Priambodo, dalam siaran persnya, Minggu (3/5).
ITdBI sendiri, jelas dia, merupakan ajang balap sepeda yang sudah masuk agenda rutin (calendar of event) Persatuan Balap Sepeda Internasional Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI) dan diselenggarakan tiap tahun sejak 2012.
Tahun ini, ITdBI diikuti para pebalap dari 27 negara, antara lain, Perancis, Belanda, Kolombia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Italia, Jepang, Singapura, Thailand, Iran, Spanyol, Filipina, Malaysia, Filipina, Australia, Korea, Tiongkok, Thailand, Selandia Baru, Rusia, Portugal, Taiwan, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Hongkong, dan Indonesia.
Ajang ITdBI, kata Guntur, merupakan perwujudan dari konsep sport tourism yang mengemas pengembangan pariwisata dalam balutan olahraga.
"Untuk memperkuat konsep sport tourism, rute yang dilalui para pembalap adalah rute yang sekaligus bisa mempromosikan destinasi wisata. Para pembalap melewati rute yang berdekatan dengan sekitar 15 destinasi wisata mulai dari wisata pantai, perkebunan, pegunungan, hingga wisata kota," jelasnya.
Dengan melewati berbagai kawasan dan rute yang bervariasi, kata Guntur, para pembalap akan ditunjukkan keramahan warga dan keindahan alam Banyuwangi. "Demikian juga wisatawan yang datang bisa sekaligus berwisata ke destinasi terdekat dari rute yang dilewati," tambahnya.
ITdBI tahun ini menempuh empat etape dengan total panjang rute sejauh 555 kilometer. Rute ini ditempuh dengan mengelilingi wilayah Banyuwangi dan dipuncaki dengan berpacu mendaki Gunung Ijen, gunung berapi aktif yang terkenal di dunia dengan fenomena api biru (Blue Fire).
Seiring dengan peningkatan kualitas, sejumlah perubahan pun akan dilakukan pada penyelenggaraan ITdBI tahun ini. Di antaranya memperkuat paduan aspek sport, lifestyle (gaya hidup), budaya, dan hiburan.
"Tiap hari di garis finish akan kami suguhkan beragam budaya, produk-produk hasil karya masyarakat Banyuwangi, hingga beragam atraksi kreatif anak muda. Mulai dari sepeda free style, skate board, hingga parade sepeda onthel," tambah Guntur.
Beritasatu
Senin, 20 Oktober 2014
Gara-Gara Selfie, Destinasi Wisata di Banyuwangi Kian Diminati
Banyuwangi Peran media sosial, seperti Twitter, Facebook, Path,
dan Instagram turut membantu Pemkab Banyuwangi mempromosikan
wisata.Sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur,
makin banyak dikunjungi wisatawan. Hal ini tak terlepas dari peran media
sosial, seperti Twitter, Facebook, Path, dan Instagram, terutama berkat
tren selfie (foto diri yang diambil diri sendiri).
"Banyak yang berkunjung ke destinasi wisata Banyuwangi seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Plengkung, Pulau Tabuhan, dan Teluk Hijau," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di sela-sela pelaksanaan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), Sabtu (18/10/2014).
"Mereka selfie di sana lalu diunggah di media sosial. Teman atau follower-nya ikut lihat dan tertarik datang ke Banyuwangi. Pernah saya jumpa wisatawan dari Singapura yang datang ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Ternyata mereka tahu destinasi wisata itu dari foto di Instagram temannya yang sudah pernah ke Banyuwangi," tambah Anas.
Selain tempat wisata, kuliner khas Banyuwangi juga diminati berkat banyaknya masyarakat yang berfoto ria di media sosial sesaat sebelum menikmatinya, seperti rujak soto, nasi tempong, maupun pecel rawon.
"Sekarang ini orang selfie bukan hanya pas makan burger, steak, atau pizza. Justru mereka merasa keren selfie saat makan kuliner khas nusantara seperti yang ada di Banyuwangi," tutur bupati berusia 41 tahun itu.
Dengan jumlah pengguna Twitter di Indonesia yang mencapai sekitar 20 juta, Facebook sebanyak 69 juta pengguna, atau Path lebih dari 4 juta pengguna; media sosial mampu menciptakan perbincangan positif tentang pariwisata Banyuwangi. "Kami ingin membangun conversation positif tentang pariwisata Banyuwangi, termasuk dari event-event yang kami gelar seperti balap sepeda, selancar, karnaval etnik, atau jazz pantai yang semuanya masuk rangkaian Banyuwangi Festival," papar Anas.
Anas menyadari era pemasaran saat ini sudah sangat dipengaruhi kemajuan teknologi, khususnya internet. Karena itu, model pemasaran wisata Banyuwangi juga mulai banyak mengandalkan instrumen teknologi informasi. Pemkab Banyuwangi juga telah meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android yang diberi nama "Banyuwangi Tourism".
Aplikasi itu memuat beragam informasi, mulai kalender wisata, restoran, serta pusat kuliner, penginapan, kontak pemandu wisata, peta wisata, sampai alamat dan nomor telepon penting yang sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan wisatawan, seperti kantor polisi, puskesmas, dan rumah sakit.
Tentu saja, sambung Anas, model pemasaran lain seperti bekerja sama dengan agen perjalanan juga ikut menunjang bergairahnya pariwisata di Banyuwangi. Demikian pula pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata juga dilakukan. Kehadiran bandara yang diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air setiap hari juga memudahkan wisatawan untuk berkunjung.
Berkat sejumlah strategi itulah, kunjungan wisatawan di Banyuwangi terus meningkat. "Tahun ini kami targetkan wisatawan lokal tembus 3 juta orang, naik sekitar 200% dibanding tahun lalu," ujarnya. "Sedangkan wisatawan asing bisa mencapai sekitar 23.000 orang, naik lebih dari 100% dibanding tahun lalu. Ini nantinya berdasarkan data tiket di destinasi wisata dan kunjungan hotel."
liputan6
"Banyak yang berkunjung ke destinasi wisata Banyuwangi seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Plengkung, Pulau Tabuhan, dan Teluk Hijau," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di sela-sela pelaksanaan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), Sabtu (18/10/2014).
"Mereka selfie di sana lalu diunggah di media sosial. Teman atau follower-nya ikut lihat dan tertarik datang ke Banyuwangi. Pernah saya jumpa wisatawan dari Singapura yang datang ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Ternyata mereka tahu destinasi wisata itu dari foto di Instagram temannya yang sudah pernah ke Banyuwangi," tambah Anas.
Selain tempat wisata, kuliner khas Banyuwangi juga diminati berkat banyaknya masyarakat yang berfoto ria di media sosial sesaat sebelum menikmatinya, seperti rujak soto, nasi tempong, maupun pecel rawon.
"Sekarang ini orang selfie bukan hanya pas makan burger, steak, atau pizza. Justru mereka merasa keren selfie saat makan kuliner khas nusantara seperti yang ada di Banyuwangi," tutur bupati berusia 41 tahun itu.
Dengan jumlah pengguna Twitter di Indonesia yang mencapai sekitar 20 juta, Facebook sebanyak 69 juta pengguna, atau Path lebih dari 4 juta pengguna; media sosial mampu menciptakan perbincangan positif tentang pariwisata Banyuwangi. "Kami ingin membangun conversation positif tentang pariwisata Banyuwangi, termasuk dari event-event yang kami gelar seperti balap sepeda, selancar, karnaval etnik, atau jazz pantai yang semuanya masuk rangkaian Banyuwangi Festival," papar Anas.
Anas menyadari era pemasaran saat ini sudah sangat dipengaruhi kemajuan teknologi, khususnya internet. Karena itu, model pemasaran wisata Banyuwangi juga mulai banyak mengandalkan instrumen teknologi informasi. Pemkab Banyuwangi juga telah meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android yang diberi nama "Banyuwangi Tourism".
Aplikasi itu memuat beragam informasi, mulai kalender wisata, restoran, serta pusat kuliner, penginapan, kontak pemandu wisata, peta wisata, sampai alamat dan nomor telepon penting yang sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan wisatawan, seperti kantor polisi, puskesmas, dan rumah sakit.
Tentu saja, sambung Anas, model pemasaran lain seperti bekerja sama dengan agen perjalanan juga ikut menunjang bergairahnya pariwisata di Banyuwangi. Demikian pula pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata juga dilakukan. Kehadiran bandara yang diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air setiap hari juga memudahkan wisatawan untuk berkunjung.
Berkat sejumlah strategi itulah, kunjungan wisatawan di Banyuwangi terus meningkat. "Tahun ini kami targetkan wisatawan lokal tembus 3 juta orang, naik sekitar 200% dibanding tahun lalu," ujarnya. "Sedangkan wisatawan asing bisa mencapai sekitar 23.000 orang, naik lebih dari 100% dibanding tahun lalu. Ini nantinya berdasarkan data tiket di destinasi wisata dan kunjungan hotel."
liputan6
Tour de Banyuwangi Dinilai Alami Peningkatan
Banyuwangi :
Komisaris Internasional Persatuan Balap Sepeda Dunia (UCI), Jamaludin
Mahmood, mengatakan, kualitas penyelenggaraan International Tour de
Banyuwangi Ijen meningkat dibandingkan tahun lalu. "Ada sedikit
peningkatan," kata dia d Banyuwangi, Ahad, 19 Oktober 2014.
Peningkatan itu, kata Jamaludin, terletak pada pembalap dan tim-tim yang ikut berkompetisi. Pembalap terbaik Asia seperti Mirsamad Pourseyedi Golakhoir, Ghader Mizbani, dan Amir Zargari yang seluruhnya berasal dari Iran ikut berlaga di kejuaraan ini.
Meski dinobatkan sebagai pembalap terbaik Asia, kata Jamaludin, nyatanya pembalap Iran kali ini harus takluk dengan pembalap Singha Thailand. Ini menunjukkan bahwa tanjakan di lereng Gunung Ijen yang terkenal berat hanya bisa ditaklukan oleh pembalap-pemlap handal. "Yang bisa menaklukan tanjakan Ijen, berarti dia lebih baik dari pembalap Iran," kata Jamal, yang juga Race Director Tour de Banyuwangi.
Jamaludin menyebut lereng Gunung Ijen adalah "Ratu Medan Tanjakan" yang setara dengan medan tanjakan di Tour de Langkawi. "Tak sembarangan pembalap bisa menaiki Ijen," kata dia.
Jamal juga mengapresiasi munculnya pembalap Indonesia, Rastra Patria, yang berhasil menjadi juara sebagai sprinter terbaik. Menurutnya, potensi pembalap Indonesia sangat besar untuk bisa bersaing dengan tim asing. Hanya saja kebanyakan tim Indonesia kesulitan pendanaan. (
Berikut ini perolehan akhir International Tour de Banyuwangi Ijen 2014:
Klasifikasi Raja Tanjakan
1. Peter Pouly (Singha Infinite-Thailand)
2. Hossein Askari (Pishgaman Yazd-Iran)
3. Amir Zargari (Pishgaman Yazd-Iran)
Klasifikasi Sprinter Terbaik
1. Rastra Patria (Pegasus Cycling Team - Indonesia)
2. Arvin Moazemi Gcudarzi (Pishgaman Yazd-Iran)
3. Vazquez Angel De Julian (Team 7 Eleven Roadbike-Filipina)
Klasifikasi Individu
1. Peter Pouly (Singha Infinite-Thailand)
2. Hossein Askari (Pishgaman Yazd-Iran)
3. Amir Zargari (Pishgaman Yazd-Iran)
Klasifikasi Tim
1. Tabriz Petrochemical-Iran
2. Pishgaman Yazd-Iran
3. Tabriz Shahrdari Ranking-Iran
tempo
Peningkatan itu, kata Jamaludin, terletak pada pembalap dan tim-tim yang ikut berkompetisi. Pembalap terbaik Asia seperti Mirsamad Pourseyedi Golakhoir, Ghader Mizbani, dan Amir Zargari yang seluruhnya berasal dari Iran ikut berlaga di kejuaraan ini.
Meski dinobatkan sebagai pembalap terbaik Asia, kata Jamaludin, nyatanya pembalap Iran kali ini harus takluk dengan pembalap Singha Thailand. Ini menunjukkan bahwa tanjakan di lereng Gunung Ijen yang terkenal berat hanya bisa ditaklukan oleh pembalap-pemlap handal. "Yang bisa menaklukan tanjakan Ijen, berarti dia lebih baik dari pembalap Iran," kata Jamal, yang juga Race Director Tour de Banyuwangi.
Jamaludin menyebut lereng Gunung Ijen adalah "Ratu Medan Tanjakan" yang setara dengan medan tanjakan di Tour de Langkawi. "Tak sembarangan pembalap bisa menaiki Ijen," kata dia.
Jamal juga mengapresiasi munculnya pembalap Indonesia, Rastra Patria, yang berhasil menjadi juara sebagai sprinter terbaik. Menurutnya, potensi pembalap Indonesia sangat besar untuk bisa bersaing dengan tim asing. Hanya saja kebanyakan tim Indonesia kesulitan pendanaan. (
Berikut ini perolehan akhir International Tour de Banyuwangi Ijen 2014:
Klasifikasi Raja Tanjakan
1. Peter Pouly (Singha Infinite-Thailand)
2. Hossein Askari (Pishgaman Yazd-Iran)
3. Amir Zargari (Pishgaman Yazd-Iran)
Klasifikasi Sprinter Terbaik
1. Rastra Patria (Pegasus Cycling Team - Indonesia)
2. Arvin Moazemi Gcudarzi (Pishgaman Yazd-Iran)
3. Vazquez Angel De Julian (Team 7 Eleven Roadbike-Filipina)
Klasifikasi Individu
1. Peter Pouly (Singha Infinite-Thailand)
2. Hossein Askari (Pishgaman Yazd-Iran)
3. Amir Zargari (Pishgaman Yazd-Iran)
Klasifikasi Tim
1. Tabriz Petrochemical-Iran
2. Pishgaman Yazd-Iran
3. Tabriz Shahrdari Ranking-Iran
tempo
Minggu, 19 Oktober 2014
Pouly Juara, Tabriz Pertahankan Gelar Tour de Banyuwangi
Banyuwangi - Meski hanya finish di
posisi ke-44 pada etape keempat International Tour de Banyuwangi Ijen
(ITdBI) 2014, Minggu (1?/10/2014) sore ini, Peter Pouly berhasil
mengunci gelar juara kategori pembalap. Sedangkan untuk kategori tim,
diraih Tabriz Petrochemical Team.
Dalam klasemen individual, pembalap asal tim Singha Infinite ini duduk di posisi pertama. Ia mengungguli duet pembalap asal tim Pishgaman Yazd Iran, Hossein Askari dan Amir Zargari. Askari terkait 55 detik dibelakang Pouly. Sedangkan Zargari terkaut 1 menit dan 46 detik di belakang pembalap asal Perancis tersebut.
"Hari ini kami hanya berusaha untuk bermain baik dan mengamankan gelar Peter. Kami kehilangan satu pembalap kemarin. Sehingga kami hanya turun dengan empat pembalap. Jadi kami bekerja 110 persen hari ini," ucap Wisut Kasiyaphat, manajer Singha Infinite Cycling Team.
Sementara itu, keberhasilan Mehdi Sohrabi sebagai pemenang etape keempat mengantarkan Tabriz Petrochemical Team mempertahankan gelar juara untuk kategori tim di ITdBI 2014. Tabriz mengungguli dua tim asal Iran lainnya, Pishgaman Yazd Cycling Team dan Tabriz Shahdari Ranking (TSR) Continental Team.
"Tahun ini, kami tak terlalu baik disini. Kemarin pembalap saya tidak menang. Saya nggak tahu kenapa. Mungkin kami tidak beruntung," terang manajer Tabriz, Ahad Kazemi Sarai. Kazemi berjanji bahwa Tabriz akan tampil lebih pada penyelenggaraan ITdBI tahun depan.
"Banyak race tahun ini. Mungkin pembalap saya kelelahan. Tahun depan, kami akan lebih kuat datang kesini. Kami akan balas dendam," tutup pria berhidung mancung ini.
berita jatim
Dalam klasemen individual, pembalap asal tim Singha Infinite ini duduk di posisi pertama. Ia mengungguli duet pembalap asal tim Pishgaman Yazd Iran, Hossein Askari dan Amir Zargari. Askari terkait 55 detik dibelakang Pouly. Sedangkan Zargari terkaut 1 menit dan 46 detik di belakang pembalap asal Perancis tersebut.
"Hari ini kami hanya berusaha untuk bermain baik dan mengamankan gelar Peter. Kami kehilangan satu pembalap kemarin. Sehingga kami hanya turun dengan empat pembalap. Jadi kami bekerja 110 persen hari ini," ucap Wisut Kasiyaphat, manajer Singha Infinite Cycling Team.
Sementara itu, keberhasilan Mehdi Sohrabi sebagai pemenang etape keempat mengantarkan Tabriz Petrochemical Team mempertahankan gelar juara untuk kategori tim di ITdBI 2014. Tabriz mengungguli dua tim asal Iran lainnya, Pishgaman Yazd Cycling Team dan Tabriz Shahdari Ranking (TSR) Continental Team.
"Tahun ini, kami tak terlalu baik disini. Kemarin pembalap saya tidak menang. Saya nggak tahu kenapa. Mungkin kami tidak beruntung," terang manajer Tabriz, Ahad Kazemi Sarai. Kazemi berjanji bahwa Tabriz akan tampil lebih pada penyelenggaraan ITdBI tahun depan.
"Banyak race tahun ini. Mungkin pembalap saya kelelahan. Tahun depan, kami akan lebih kuat datang kesini. Kami akan balas dendam," tutup pria berhidung mancung ini.
berita jatim
Pembalap Iran Rebut Etape Pamungkas Tour de Banyuwangi
Banyuwangi - Etape pamungkas
International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2014, Minggu (1?/10/2014)
sore ini akhirnya menjadi milik Mehdi Sohrabi, pembalap asal Tabriz
Petrochemical Team Iran. Mehdi sukses menyingkirkan para pembalap
Pishgaman Yazd Cycling Team yang mendominasi sejak awal lomba.
Mehdi mencatatkan waktu 3 jam, 10 menit dan 34 detik. Catatan waktu yang sama juga dicapai peringkat kedua Eduard Prades Reverter dari Matrix Powertag Jepang dan Shimpei Fukuda asal tim Aisan Racing Team.
Pada awal balapan, para pembalap masih berkumpul dalam satu rombongan besar. Tapi selang beberapa putaran berikutnya, pembalap mulai terpecah. Rombongan pertama berisi belasan pembalap. Sementara jumlah lebih banyak bergabung di rombongan besar yang menguntit di belakangnya.
Mulai intermediate sprint pertama di KM ke-54.71 hingga sprint ketiga di KM ke-97.61, pembalap-pembalap Pishgaman Yazd Cycling Team masih memimpin rombongan pertama. Hossein Askari dan Arvin Moazemi Gordazi secara bergantian berada di barisan terdepan. Tapi pada dua putaran terakhir, komposisi pembalap berubah total.
Rombongan besar berhasil menangkap grup kecil yang memimpin di depan. Seluruh pembalap akhirnya tergabung dalam grup besar dan masuk ke finish secara bersamaan. Sohrabi dinyatakan sebagai tercepat di etape ini.
Etape keempat sekaligus terakhir di balapan ini mengambil start di Kalibaru dan finish di depan kantor bupati Banyuwangi. Etape keempat memiliki panjang 140.5 kilometer. Sejak KM ke-54, para pembalap langsung menghadapi lintasan criterium. Mereka memutari kantor bupati sebanyak 12 kali.
berita jatim
Mehdi mencatatkan waktu 3 jam, 10 menit dan 34 detik. Catatan waktu yang sama juga dicapai peringkat kedua Eduard Prades Reverter dari Matrix Powertag Jepang dan Shimpei Fukuda asal tim Aisan Racing Team.
Pada awal balapan, para pembalap masih berkumpul dalam satu rombongan besar. Tapi selang beberapa putaran berikutnya, pembalap mulai terpecah. Rombongan pertama berisi belasan pembalap. Sementara jumlah lebih banyak bergabung di rombongan besar yang menguntit di belakangnya.
Mulai intermediate sprint pertama di KM ke-54.71 hingga sprint ketiga di KM ke-97.61, pembalap-pembalap Pishgaman Yazd Cycling Team masih memimpin rombongan pertama. Hossein Askari dan Arvin Moazemi Gordazi secara bergantian berada di barisan terdepan. Tapi pada dua putaran terakhir, komposisi pembalap berubah total.
Rombongan besar berhasil menangkap grup kecil yang memimpin di depan. Seluruh pembalap akhirnya tergabung dalam grup besar dan masuk ke finish secara bersamaan. Sohrabi dinyatakan sebagai tercepat di etape ini.
Etape keempat sekaligus terakhir di balapan ini mengambil start di Kalibaru dan finish di depan kantor bupati Banyuwangi. Etape keempat memiliki panjang 140.5 kilometer. Sejak KM ke-54, para pembalap langsung menghadapi lintasan criterium. Mereka memutari kantor bupati sebanyak 12 kali.
berita jatim
Sabtu, 18 Oktober 2014
Ada Unsur Lucky dalam Kemenangan Pouly
Banyuwangi
- Sukses Peter Pouly menjadi pemenang di etape ketiga International
Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2014, Sabtu (18/10/2014) sore ini,
memiliki unsur keberuntungan. Mengapa?
Menurut cerita Pouly kepada awak media, sebenarnya ada satu pembalap Iran yang memimpin balapan sejak 10 kilometer menjelang garis finish. Pembalap tersebut adalah Hossein Askari. Sedangkan Pouly di urutan kedua.
Tapi pada 2 kilometer menjelang finish, Askari mengalami kendala teknis. Kondisi ini dimanfaatkan Pouly untuk menyalip dan mengamankan posisi pertama. Pembalap asal Perancis ini akhirnya keluar sebagai pemenang etape ketiga sekaligus terpanjang di event ini.
"Saat itu saya tekankan pada diri saya bahwa saya bisa. Saya harus maju dan melaju," ucap Pouly usai balapan. Ini adalah kali pertama Pouly mengikuti event balap sepeda internasional di Banyuwangi. Gelar di etape ketiga ITdBI ini menjadi yang pertama untuk tim anyarnya, Singha Infinite Thailand.
"Saya terima kasih ke tim, keluarga dan sponsor atas dukungan mereka kepada saya," terang Pouly. Ia juga memuji lintasan di etape kedua ini. "Ini gunung yang bagus. Saya suka gunung," puji Pouly. Menurutnya, lintasan di etape ketiga mirip dengan rute dari Geneva ke Nice.
berita jatim
Menurut cerita Pouly kepada awak media, sebenarnya ada satu pembalap Iran yang memimpin balapan sejak 10 kilometer menjelang garis finish. Pembalap tersebut adalah Hossein Askari. Sedangkan Pouly di urutan kedua.
Tapi pada 2 kilometer menjelang finish, Askari mengalami kendala teknis. Kondisi ini dimanfaatkan Pouly untuk menyalip dan mengamankan posisi pertama. Pembalap asal Perancis ini akhirnya keluar sebagai pemenang etape ketiga sekaligus terpanjang di event ini.
"Saat itu saya tekankan pada diri saya bahwa saya bisa. Saya harus maju dan melaju," ucap Pouly usai balapan. Ini adalah kali pertama Pouly mengikuti event balap sepeda internasional di Banyuwangi. Gelar di etape ketiga ITdBI ini menjadi yang pertama untuk tim anyarnya, Singha Infinite Thailand.
"Saya terima kasih ke tim, keluarga dan sponsor atas dukungan mereka kepada saya," terang Pouly. Ia juga memuji lintasan di etape kedua ini. "Ini gunung yang bagus. Saya suka gunung," puji Pouly. Menurutnya, lintasan di etape ketiga mirip dengan rute dari Geneva ke Nice.
berita jatim
Kangkangi Pembalap Iran, Pouly Juara Etape Neraka
Banyuwangi
- Kejutan terjadi apda etape ketiga International Tour de Banyuwangi
Ijen (ITdBI) 2014, Sabtu (18/10/2014) sore ini. Pembalap Perancis yang
tergabung dalam Singha Infinite Cycling Team Thailand, Peter Pouly
keluar sebagai pemenang. Pouly menyisihkan pembalap-pembalap Iran yang
dikenal sebagai raja tanjakan.
Pouly menyelesaikan etape sepanjang 201.7 Km dari Muncar menuju Ijen Crater dengan catatan waktu 6 jam, 13 menit dan 58 detik. Pouly meninggalkan dua pembalap Iran asal tim Pishgaman Yazd, Hossein Askari dan Amir Zargari. Askari tertinggal 51 detik di belakang Pouly. Sedangkan Zargari terpaut 1 menit dan 40 detik.
Pada awal balapan, para pembalap melintasi jalur flat yang cukup panjang dan berkelok-kelok, mulai Muncar hingga Stail. Melewati kawasan pedesaan dan hamparan sawah nan hijau, para pembalap disambut antusiasme masyarakat yang sangat ramai memenuhi sisi-sisi jalan. Ketika memasuki kawasan Tegalsari, pembalap dari tim Polygon Sweet Nice (PSN) sempat membuat gertakan. Tapi langsung ditangkap oleh rombongan besar.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, para pembalap Tabriz Petrochemical Team memimpin rombongan besar. Mensejajarkan seluruh pembalapnya di depan, Tabriz seolah membuat tembok pertahanan yang sukar ditembus oleh tim-tim lain. Usai intermediate sprint pertama di Pasar Genteng (KM 33.25), hingga tanjakan King of Mountain (KOM) pertama di Sragi, formasi pembalap masih tidak berubah. Mereka masih tergabung di rombongan besar.
Jarak yang sangat panjang membuat para pembalap memilih bermain aman. Bahkan selepas intermediate sprint kedua di daerah Muncar (KM 92.26), seluruh pembalap tetap di rombongan besar. Hingga memasuki KM 142.19 di wilayah Segobang, tak ada satupun pembalap yang melakukan break away. Mereka tetap menggerombol dalam rombongan besar.
Tabriz masih mempertahankan strateginya, yakni menempatkan seluruh pembalapnya di barisan terdepan. Alhasil mereka lah yang mengontrol ritme balapan dengan kecepatan rata-rata mencapai 35 km/jam. Jalan yang panjang dan banyak tanjakan dan turunan di Segobang-Licin-Glagah membuat banyak pembalap tumbang karena harus mendapat penanganan mekanis.
Balapan akhirnya hidup pada 35 kilometer menjelang garis finish. Kali ini tim Aisan mulai berani mendobrak barikade Tabriz. Selang 10 kilometer setelahnya giliran Pishgaman Yazd yang berani menganggu Tabriz. Dua tim asal Iran dan satu tim Jepang itu mulai berancang-ancang menjelang tanjakan KOM 2 di daerah Licin.
Selepas KOM 2, Aisan temani Tabriz memimpin lomba. Satu pembalap 7 Eleven Roadbike, Edgar Nieto juga masuk dalam persaingan. Medan yang mulai menanjak membuat para leader akhirnya ditangkap grup besar. Pembalap Tabriz, Amir Kolahdozhagh membuat melakukan break away sejak 15 kilometer menjelang finish. Hingga 5 kilometer setelahnya, Kolahdozhagh masih memimpin dengan gap lebih dari satu menit.
Sejak 10 kilometer menjelang finish pula, rombongan besar mulai terpecah. Ada rombongan kecil di belakang Kolahdozhagh. Rombongan pertama diisi tiga pembalap Iran, Ghader Mizbani, Amir Zargari dan Hossein Askari. Serta Peter Pouly dari Perancis. Sedangkan di rombongan kecil kedua diisi empat pembalap. Salah satunya runner up musim lalu, Hideto Nakane (Aisan)
Semakin dekat ke garis finish maka semakin berat pula hambatan yang dihadapi oleh para pembalap. Satu persatu pembalap yang awalnya memimpin akhirnya mundur teratur. Pada 5 kilometer menjelang finish, tersisa empat pembalap yang bersaing, yakni Pouly, Askari, Zargari dan Kolahdozhagh. Sejatinya Askari lah yang memimpin balapan. Sedangkan Pouly di urutan kedua.
Sial, 2 kilometer menjelang finish, Askari mengalami kendala teknis. Kondisi ini dimanfaatkan Pouly untuk menyalip dan mengamankan posisi pertama.
berita jatim
Pouly menyelesaikan etape sepanjang 201.7 Km dari Muncar menuju Ijen Crater dengan catatan waktu 6 jam, 13 menit dan 58 detik. Pouly meninggalkan dua pembalap Iran asal tim Pishgaman Yazd, Hossein Askari dan Amir Zargari. Askari tertinggal 51 detik di belakang Pouly. Sedangkan Zargari terpaut 1 menit dan 40 detik.
Pada awal balapan, para pembalap melintasi jalur flat yang cukup panjang dan berkelok-kelok, mulai Muncar hingga Stail. Melewati kawasan pedesaan dan hamparan sawah nan hijau, para pembalap disambut antusiasme masyarakat yang sangat ramai memenuhi sisi-sisi jalan. Ketika memasuki kawasan Tegalsari, pembalap dari tim Polygon Sweet Nice (PSN) sempat membuat gertakan. Tapi langsung ditangkap oleh rombongan besar.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, para pembalap Tabriz Petrochemical Team memimpin rombongan besar. Mensejajarkan seluruh pembalapnya di depan, Tabriz seolah membuat tembok pertahanan yang sukar ditembus oleh tim-tim lain. Usai intermediate sprint pertama di Pasar Genteng (KM 33.25), hingga tanjakan King of Mountain (KOM) pertama di Sragi, formasi pembalap masih tidak berubah. Mereka masih tergabung di rombongan besar.
Jarak yang sangat panjang membuat para pembalap memilih bermain aman. Bahkan selepas intermediate sprint kedua di daerah Muncar (KM 92.26), seluruh pembalap tetap di rombongan besar. Hingga memasuki KM 142.19 di wilayah Segobang, tak ada satupun pembalap yang melakukan break away. Mereka tetap menggerombol dalam rombongan besar.
Tabriz masih mempertahankan strateginya, yakni menempatkan seluruh pembalapnya di barisan terdepan. Alhasil mereka lah yang mengontrol ritme balapan dengan kecepatan rata-rata mencapai 35 km/jam. Jalan yang panjang dan banyak tanjakan dan turunan di Segobang-Licin-Glagah membuat banyak pembalap tumbang karena harus mendapat penanganan mekanis.
Balapan akhirnya hidup pada 35 kilometer menjelang garis finish. Kali ini tim Aisan mulai berani mendobrak barikade Tabriz. Selang 10 kilometer setelahnya giliran Pishgaman Yazd yang berani menganggu Tabriz. Dua tim asal Iran dan satu tim Jepang itu mulai berancang-ancang menjelang tanjakan KOM 2 di daerah Licin.
Selepas KOM 2, Aisan temani Tabriz memimpin lomba. Satu pembalap 7 Eleven Roadbike, Edgar Nieto juga masuk dalam persaingan. Medan yang mulai menanjak membuat para leader akhirnya ditangkap grup besar. Pembalap Tabriz, Amir Kolahdozhagh membuat melakukan break away sejak 15 kilometer menjelang finish. Hingga 5 kilometer setelahnya, Kolahdozhagh masih memimpin dengan gap lebih dari satu menit.
Sejak 10 kilometer menjelang finish pula, rombongan besar mulai terpecah. Ada rombongan kecil di belakang Kolahdozhagh. Rombongan pertama diisi tiga pembalap Iran, Ghader Mizbani, Amir Zargari dan Hossein Askari. Serta Peter Pouly dari Perancis. Sedangkan di rombongan kecil kedua diisi empat pembalap. Salah satunya runner up musim lalu, Hideto Nakane (Aisan)
Semakin dekat ke garis finish maka semakin berat pula hambatan yang dihadapi oleh para pembalap. Satu persatu pembalap yang awalnya memimpin akhirnya mundur teratur. Pada 5 kilometer menjelang finish, tersisa empat pembalap yang bersaing, yakni Pouly, Askari, Zargari dan Kolahdozhagh. Sejatinya Askari lah yang memimpin balapan. Sedangkan Pouly di urutan kedua.
Sial, 2 kilometer menjelang finish, Askari mengalami kendala teknis. Kondisi ini dimanfaatkan Pouly untuk menyalip dan mengamankan posisi pertama.
berita jatim
Hari ini, Etape III Menjadi Etape Penetuan dan Neraka Bagi pembalap
Lomba balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen hari ketiga, Sabtu (18/10/2014) hari ini, disebut sebagai etape neraka sekaligus penentuan.
Etape III yang akan mengambil start di Kecamatan Muncar dan finish di Paltuding, kawasan wisata Gunung Ijen akan menjadi ruter terpanjang yakni 201,7 kilometer.
Selain terpanjang, etape III akan menjadi etape terberat karena berupa medan tanjakan panjang. Bahkan pada beberapa bagian, tanjakan yang dilalui masuk dalam kategori hors class atau super ekstrim.
"Seperti diketahui Selisih waktu di etape I dan II cukup tipis, dan selisih ini bisa menjadi lebar di etape III yang akhirnya bisa menjadi penentu juara," papar Guntur Priambodo, Chairman ITdBI, Jumat (17/10/2014).
Selisih waktu pemegang yellow jersey atau pimpinan perlombaan perseorangan dengan urutan dua atau tiga hingga etape II memang sangat tipis.
Rasta Patria, pemegang yellow jersey dari tim Pegasus Continental Cycling Team hanya unggul 16 detik dengan pebalap urutan dua dan tiga, Marcelo Felipe (tim 7 Eleven Philipina) dan Agung Ali Shabana (Banyuwangi Race Cycling Club).
"Di etape III nanti, para jagoan tanjakan dari Asia dan Indonesia sangat mungkin akan unggul dengan selisih waktu yang lebar dan menggeser posisi yang ada," lanjut Guntur.
Sementara itu juara tahun lalu, pebalap Mirsamad Pourseyedigolakhair dari Tabriz Petrochemical, Iran yang hingga etape II belum menunjukkan kekuatannya merasa yakin bisa berbicara banyak di Etape III nanti.
Selain berbicara mengenai peluangnya, Mirsamad juga berbicara mengenai peluang timnya untuk mengubah peta persaingan.
"Saya mengincar etape III yang merupakan etape pegunungan. Saya sudah tiga kali lomba disini dan saya memang mempersiapkan diri untuk rute besok," ucapnya.
"Tim kami juga ada (Ghader) Mizbani yang jago tanjakan. Jadi kami masih punya peluang."
Keyakinan juga ditunjukkan tim Puslatda Jawa Timur yang hingga etape II menempatkan pebalap Herwin Jaya sebagai raja tanjakan atau King of Mountain.
"Besok akan menjadi balapan yang paling berat tapi kami tetap punya keyakinan selama tim bekerja keras dan kompak," ucap Herwin yang pada balapan besok akan menggenakan polkadot jersey sebagai penanda raja tanjakan.
tribun
Etape III yang akan mengambil start di Kecamatan Muncar dan finish di Paltuding, kawasan wisata Gunung Ijen akan menjadi ruter terpanjang yakni 201,7 kilometer.
Selain terpanjang, etape III akan menjadi etape terberat karena berupa medan tanjakan panjang. Bahkan pada beberapa bagian, tanjakan yang dilalui masuk dalam kategori hors class atau super ekstrim.
"Seperti diketahui Selisih waktu di etape I dan II cukup tipis, dan selisih ini bisa menjadi lebar di etape III yang akhirnya bisa menjadi penentu juara," papar Guntur Priambodo, Chairman ITdBI, Jumat (17/10/2014).
Selisih waktu pemegang yellow jersey atau pimpinan perlombaan perseorangan dengan urutan dua atau tiga hingga etape II memang sangat tipis.
Rasta Patria, pemegang yellow jersey dari tim Pegasus Continental Cycling Team hanya unggul 16 detik dengan pebalap urutan dua dan tiga, Marcelo Felipe (tim 7 Eleven Philipina) dan Agung Ali Shabana (Banyuwangi Race Cycling Club).
"Di etape III nanti, para jagoan tanjakan dari Asia dan Indonesia sangat mungkin akan unggul dengan selisih waktu yang lebar dan menggeser posisi yang ada," lanjut Guntur.
Sementara itu juara tahun lalu, pebalap Mirsamad Pourseyedigolakhair dari Tabriz Petrochemical, Iran yang hingga etape II belum menunjukkan kekuatannya merasa yakin bisa berbicara banyak di Etape III nanti.
Selain berbicara mengenai peluangnya, Mirsamad juga berbicara mengenai peluang timnya untuk mengubah peta persaingan.
"Saya mengincar etape III yang merupakan etape pegunungan. Saya sudah tiga kali lomba disini dan saya memang mempersiapkan diri untuk rute besok," ucapnya.
"Tim kami juga ada (Ghader) Mizbani yang jago tanjakan. Jadi kami masih punya peluang."
Keyakinan juga ditunjukkan tim Puslatda Jawa Timur yang hingga etape II menempatkan pebalap Herwin Jaya sebagai raja tanjakan atau King of Mountain.
"Besok akan menjadi balapan yang paling berat tapi kami tetap punya keyakinan selama tim bekerja keras dan kompak," ucap Herwin yang pada balapan besok akan menggenakan polkadot jersey sebagai penanda raja tanjakan.
tribun
Ini Dia Raja Etape Kedua ITdBI
Banyuwangi - Patria Rastra merajai etape kedua balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen
(ITdBI) 2014, Jumat (17/10/2014). Pembalap dari Pegasus Continental
Cycling Team mengaku sebenarnya tak menargetkan juara pada etape ini.
"Sebenarnya saya hanya ingin mengambil poin sprint, tapi ternyata ada kesempatan jadi juara, 25 kilometer sebelum finis saya unggul 2 menit dari rombongan," kata Patria usai menyentuh garis finis.
Patria mengaku keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan rekan setimnya. "Ini juga atas support teman satu tim, mas Tonton Susanto. 25 kilometer menjelang finis kami sudah di depan dan satu kilometer jelang finis kami terus menambah kecepatan," tambahnya.
Hasil balapan ini memastikan Partria meraih kaus kuning atau yellow jersey sebagai pemimpin di klasemen. Tak hanya itu, dia juga berhak memakai green jersey sebagai raja sprint. Ini adalah kali kedua Patria meraih green jersey setelah di etape pertama.
Selain itu, Patria juga mendapat red white jersey sebagai yang terbaik untuk klasifikasi pembalap Indonesia.
"Bersyukur bisa juara di etape ini. Besok, di stage penentuan saya akan mempertahankan yellow jersey tentunya dengan beberapa persiapan untuk menghadapi rute yang panjang dan tanjakan lereng Ijen," ucap Patria.
"Sebenarnya saya hanya ingin mengambil poin sprint, tapi ternyata ada kesempatan jadi juara, 25 kilometer sebelum finis saya unggul 2 menit dari rombongan," kata Patria usai menyentuh garis finis.
Patria mengaku keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan rekan setimnya. "Ini juga atas support teman satu tim, mas Tonton Susanto. 25 kilometer menjelang finis kami sudah di depan dan satu kilometer jelang finis kami terus menambah kecepatan," tambahnya.
Hasil balapan ini memastikan Partria meraih kaus kuning atau yellow jersey sebagai pemimpin di klasemen. Tak hanya itu, dia juga berhak memakai green jersey sebagai raja sprint. Ini adalah kali kedua Patria meraih green jersey setelah di etape pertama.
Selain itu, Patria juga mendapat red white jersey sebagai yang terbaik untuk klasifikasi pembalap Indonesia.
"Bersyukur bisa juara di etape ini. Besok, di stage penentuan saya akan mempertahankan yellow jersey tentunya dengan beberapa persiapan untuk menghadapi rute yang panjang dan tanjakan lereng Ijen," ucap Patria.
Kamis, 16 Oktober 2014
Pebalap Jepang Menangi Etape I
Banyuwangi - Etape pertama International Tour de
Banyuwangi Ijen 2014 telah rampung. Keluar sebagai pemenang adalah
pebalap Jepang, Takei Kyosuke.
Menempuh jarak 180,78 km, dari Pendopo Kabupaten Banyuwangi hingga finis di Pulau Merah, Kamis (16/10/2014), Kyosuke menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 4 jam 54 menit 18 detik.
Ia ditempel ketat oleh pebalap asal Jawa Timur, Nandra Eko Wahyudi, yang tampil sebagai runner-up. Nandra hanya terpaut 12 detik dari sang juara. Juara ketiga juga atlet Jepang, Fukuda Shimpei, dengan waktu 4:55:13.
Selain jersey merah-putih sebagai Indonesia best classification rider yang diraih Nandra, dua kategori terbaik lain juga direbut atlet-atlet Indonesia. Herwin Jaya berhak memakai jersey polkadot sebagai raja tanjakan; Rastra Patria menyandang green jersey sebagai raja sprint.
Seusai
memenangi lomba, Kyosuke yang memperkuat tim Singha Infinite Cycling
(Thailand), tampak terharu dan tak kuasa menitikkan air mata.
"Amazing. Saya sangat bahagia," ucapnya singkat sambil menahan tangis.
Besok lomba memasuki etape kedua yang merupakan rute flat, para pebalap akan menempuh jarak 100 kilometer. Para peserta akan melintasi jalanan di kawasan sisi Selatan Banyuwangi. Melintasi sawah, dan sungai yang berkelok-kelok sepanjang jalan, tepatnya sungai Kebondalem - Bangorejo.

detik
Menempuh jarak 180,78 km, dari Pendopo Kabupaten Banyuwangi hingga finis di Pulau Merah, Kamis (16/10/2014), Kyosuke menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 4 jam 54 menit 18 detik.
Ia ditempel ketat oleh pebalap asal Jawa Timur, Nandra Eko Wahyudi, yang tampil sebagai runner-up. Nandra hanya terpaut 12 detik dari sang juara. Juara ketiga juga atlet Jepang, Fukuda Shimpei, dengan waktu 4:55:13.
Selain jersey merah-putih sebagai Indonesia best classification rider yang diraih Nandra, dua kategori terbaik lain juga direbut atlet-atlet Indonesia. Herwin Jaya berhak memakai jersey polkadot sebagai raja tanjakan; Rastra Patria menyandang green jersey sebagai raja sprint.
"Amazing. Saya sangat bahagia," ucapnya singkat sambil menahan tangis.
Besok lomba memasuki etape kedua yang merupakan rute flat, para pebalap akan menempuh jarak 100 kilometer. Para peserta akan melintasi jalanan di kawasan sisi Selatan Banyuwangi. Melintasi sawah, dan sungai yang berkelok-kelok sepanjang jalan, tepatnya sungai Kebondalem - Bangorejo.
detik
Sabtu, 09 Agustus 2014
Kitesurfers dan Windsurfers Beraksi di Atas Laut Pulau Tabuhan
BANYUWANGI – Puluhan kitesurfers
dan windsurfers yang berasal dari berbagai negara menunjukkan aksinya
bermanuver di atas laut Pulau Tabuhan. Angin yang berhembus dengan
kencang sesekali membuat para kitesurfer (selancar layang) dan
windsurfer (selancar angin) terangkat dari air dan melayang diudara.
Aksi para peselancar yang memanfaatkan angin sebagai penggerak utamanya ini menjadi bagian dari pembukaan trial summer kitesurf camp yang diselenggarakan oleh Banyuwangi Bangsring Breeze dengan di dukukung Pemkab Banyuwangi di Pulau Tabuhan, Bangsring, Sabtu (9/8).
Kitesurfer asal Belanda, yang juga penggagas even, Jeroen Van Der Kooij mengatakan Pulau Tabuhan menjadi tempat istimewa bagi para peselancar. Kecapatan angin di laut pulau ini berkisar 20-30 knot, sangat baik untuk bermain kitesurfing maupun windsurfing. “Tabuhan tempat paling bagus di Indonesia untuk main surfing, angin keras setiap saat, tidak usah menunggu datangnya angin seperti di Bali,” kata Jeroen.
Peserta yang mengikuti event ini sebanyak 36 kitesurfers asing yang berasal dari berbagai negara. Di antaranya Austria, Jerman, Perancis, Singapura, Thailand, Hongkong, dan Australia. Beberapa atlet dari Bali Kitesurf Club juga ikut serta.
Jeroen menambahkan, Pulau Tabuhan sangat cocok untuk bermain freestyle kitesurfing dan windsurfing karena lautnya yang tanpa ombak. “Kami baru mengetahui kalau Pulau Tabuhan sangat potensial untuk olahraga ini tahun lalu. Jika saja sudah tahu sejak dulu pasti sudah lama kesini. Teman-teman kitesurfer yang biasanya main di Bali semuanya kesini,” tambah Jeroen.
Jeroen optimis kalau Pulau Tabuhan akan menjadi lokasi surfpoint utama bagi penggila kitesurfing dan windsurfing. Ini juga terlihat dari antusiasme peserta dari berbagai negara yang mendaftar secara online untuk mengikuti kegiatan ini. Untuk mengembangkan olahraga ini di Pulau Tabuhan, dia juga berencana akan membuka kelas training bagi warga lokal maupun wisatawan yang tertarik pada olahraga ini.
“Sebagai awal kami akan membawa trainer dari luar yang memenuhi kualifikasi. Nantinya juga akan melibatkan warga lokal untuk dilatih,” urainya.
Pulau Tabuhan sendiri merupakan sebuah Pulau kecil tidak berpenghuni yang berada di wilayah utara Banyuwangi. Untuk mencapai lokasi tersebut harus menyeberang kurang lebih 15 menit dari Pantai Bangsring dengan menggunakan perahu nelayan. Di sepanjang perjalanan menuju Pulau berpasir putih ini bisa dinikmati pemandangan menawan gradasi warna laut mulai hijau, biru muda sampai biru tua.
Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan event yang merupakan sinergi Pemkab Banyuwangi dengan pihak swasta ini salah satu bentuk private partnership dalam menggerakkan sektor pariwisata yang muaranya adalah menggerakkan perekonomian masyarakat. Ini juga menjadi salah satu cara untuk mempromosikan pariwisata Banyuwangi khususnya di wilayah utara setelah sebelumnya wilayah selatan telah lebih dulu dikenal lewat wisata pantai seperti Pulau Merah, Plengkung dan Sukamade.
“Satu lagi potensi pariwisata Banyuwangi yang tergali. Pulau Tabuhan menyimpan pesona yang belum diketahui banyak orang. Pasir putih yang halus, air laut yang jernih dan biota lautnya yang menawan. Kami ingin Pulau Tabuhan menjadi surfpoint bagi komunitas kitesurfing dan windsurfing internasional,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.
Ajang ini, ujar Bupati, merupakan pemanasan sebelum agenda sesungguhnya, yakni International Event Kitesurfing and Windsurfing Competition pada 2015 yang digelar tahun depan. “Event tersebut akan dimasukkan dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2015,” ujar Bupati Anas.
Bupati melanjutkan, kedepan Pulau Tabuhan akan dikelola bersama dengan menggandeng investor. “Kami terbuka dengan investor yang ingin berinvestasi disini. Tapi nantinya harus diatur agar kawasan ini dapat dikelola secara profesional dengan memperhatikan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
Kitesurfing adalah olahraga selancar di permukaan air yang menggabungkan beragam unsur, mulai dari selancar angin, selancar, paralayang, bahkan senam menjadi satu jenis olahraga. Kitesurfing memanfaatkan angin guna mendorong sang atlet untuk menaklukkan air dengan papan selancar kecil. Para atlet atau pengendara di papan selancar dihubungkan dengan sebuah layang-layang paralayang. Para atlet akan berlomba melintasi air dan terkadang di udara.
banyuwangiKab
Aksi para peselancar yang memanfaatkan angin sebagai penggerak utamanya ini menjadi bagian dari pembukaan trial summer kitesurf camp yang diselenggarakan oleh Banyuwangi Bangsring Breeze dengan di dukukung Pemkab Banyuwangi di Pulau Tabuhan, Bangsring, Sabtu (9/8).
Kitesurfer asal Belanda, yang juga penggagas even, Jeroen Van Der Kooij mengatakan Pulau Tabuhan menjadi tempat istimewa bagi para peselancar. Kecapatan angin di laut pulau ini berkisar 20-30 knot, sangat baik untuk bermain kitesurfing maupun windsurfing. “Tabuhan tempat paling bagus di Indonesia untuk main surfing, angin keras setiap saat, tidak usah menunggu datangnya angin seperti di Bali,” kata Jeroen.
Peserta yang mengikuti event ini sebanyak 36 kitesurfers asing yang berasal dari berbagai negara. Di antaranya Austria, Jerman, Perancis, Singapura, Thailand, Hongkong, dan Australia. Beberapa atlet dari Bali Kitesurf Club juga ikut serta.
Jeroen menambahkan, Pulau Tabuhan sangat cocok untuk bermain freestyle kitesurfing dan windsurfing karena lautnya yang tanpa ombak. “Kami baru mengetahui kalau Pulau Tabuhan sangat potensial untuk olahraga ini tahun lalu. Jika saja sudah tahu sejak dulu pasti sudah lama kesini. Teman-teman kitesurfer yang biasanya main di Bali semuanya kesini,” tambah Jeroen.
Jeroen optimis kalau Pulau Tabuhan akan menjadi lokasi surfpoint utama bagi penggila kitesurfing dan windsurfing. Ini juga terlihat dari antusiasme peserta dari berbagai negara yang mendaftar secara online untuk mengikuti kegiatan ini. Untuk mengembangkan olahraga ini di Pulau Tabuhan, dia juga berencana akan membuka kelas training bagi warga lokal maupun wisatawan yang tertarik pada olahraga ini.
“Sebagai awal kami akan membawa trainer dari luar yang memenuhi kualifikasi. Nantinya juga akan melibatkan warga lokal untuk dilatih,” urainya.
Pulau Tabuhan sendiri merupakan sebuah Pulau kecil tidak berpenghuni yang berada di wilayah utara Banyuwangi. Untuk mencapai lokasi tersebut harus menyeberang kurang lebih 15 menit dari Pantai Bangsring dengan menggunakan perahu nelayan. Di sepanjang perjalanan menuju Pulau berpasir putih ini bisa dinikmati pemandangan menawan gradasi warna laut mulai hijau, biru muda sampai biru tua.
Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan event yang merupakan sinergi Pemkab Banyuwangi dengan pihak swasta ini salah satu bentuk private partnership dalam menggerakkan sektor pariwisata yang muaranya adalah menggerakkan perekonomian masyarakat. Ini juga menjadi salah satu cara untuk mempromosikan pariwisata Banyuwangi khususnya di wilayah utara setelah sebelumnya wilayah selatan telah lebih dulu dikenal lewat wisata pantai seperti Pulau Merah, Plengkung dan Sukamade.
“Satu lagi potensi pariwisata Banyuwangi yang tergali. Pulau Tabuhan menyimpan pesona yang belum diketahui banyak orang. Pasir putih yang halus, air laut yang jernih dan biota lautnya yang menawan. Kami ingin Pulau Tabuhan menjadi surfpoint bagi komunitas kitesurfing dan windsurfing internasional,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.
Ajang ini, ujar Bupati, merupakan pemanasan sebelum agenda sesungguhnya, yakni International Event Kitesurfing and Windsurfing Competition pada 2015 yang digelar tahun depan. “Event tersebut akan dimasukkan dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2015,” ujar Bupati Anas.
Bupati melanjutkan, kedepan Pulau Tabuhan akan dikelola bersama dengan menggandeng investor. “Kami terbuka dengan investor yang ingin berinvestasi disini. Tapi nantinya harus diatur agar kawasan ini dapat dikelola secara profesional dengan memperhatikan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
Kitesurfing adalah olahraga selancar di permukaan air yang menggabungkan beragam unsur, mulai dari selancar angin, selancar, paralayang, bahkan senam menjadi satu jenis olahraga. Kitesurfing memanfaatkan angin guna mendorong sang atlet untuk menaklukkan air dengan papan selancar kecil. Para atlet atau pengendara di papan selancar dihubungkan dengan sebuah layang-layang paralayang. Para atlet akan berlomba melintasi air dan terkadang di udara.
banyuwangiKab
Melihat Keseruan Selancar Layang di Laut Pulau Tabuhan
BANYUWANGI – Puluhan
atlet selancar layang (kitesurfing) dan selancar angin (windsurfing)
dari berbagai negara menunjukkan aksinya bermanuver di atas laut Pulau
Tabuhan, Banyuwangi, Jawa Timur. Angin yang berembus dengan kencang
sesekali membuat para kitesurfer (peselancar layang) dan windsurfer
(peselancar angin) terangkat dari air dan melayang-layang di udara.
Fantastis!
Para kitesurfer itu meliuk terbang ke
udara lalu melandai kembali berselancar di atas air dengan
gerakan-gerakan yang mengundang decak kagum. Sebanyak 36 kitesurfers
dari berbagai negara, mulai Austria, Jerman, Perancis, Singapura,
Thailand, Hongkong, Australia, hingga Indonesia, tak mau kalah satu sama
lain.
Aksi para peselancar yang memanfaatkan
angin sebagai penggerak utamanya ini menjadi bagian dari pembukaan
Summer Kitesurf Camp yang diselenggarakan di Pulau Tabuhan, Bangsring,
Sabtu (9/8/2014). Ajang yang memadukan olahraga dan pariwisata (sport
tourism) ini digelar oleh Banyuwangi Bangsring Breeze dengan dukungan
penuh Pemkab Banyuwangi.
Kitesurfer asal Belanda, yang juga
penggagas event, Jeroen Van Der Kooij, mengatakan, Pulau Tabuhan menjadi
tempat istimewa bagi para peselancar. Kecapatan angin di laut pulau ini
berkisar 20-30 knot, sangat baik untuk bermain kitesurfing maupun
windsurfing. “Pulau Tabuhan tempat paling bagus di Indonesia untuk main
selancar layang dan selancar angin. Angin keras setiap saat, tidak usah
menunggu datangnya angin seperti di Bali,” kata Jeroen.
Jeroen menambahkan, Pulau Tabuhan
sangat cocok untuk bermain freestyle kitesurfing dan windsurfing karena
lautnya yang tanpa ombak. “Kami baru mengetahui kalau Pulau Tabuhan
sangat potensial untuk olahraga ini tahun lalu. Jika saja sudah tahu
sejak dulu pasti sudah lama kesini. Teman-teman kitesurfer yang
biasanya main di Bali semuanya kesini,” tambah Jeroen.
Jeroen optimistis Pulau Tabuhan akan
menjadi lokasi surfpoint utama bagi penggila kitesurfing dan
windsurfing. Ini juga terlihat dari antusiasme peserta dari berbagai
negara yang mendaftar secara online untuk mengikuti kegiatan ini.
Untuk mengembangkan olahraga ini di
Pulau Tabuhan, dia juga berencana akan membuka pelatihan bagi warga
lokal maupun wisatawan yang tertarik pada olahraga ini. Warga lokal
nantinya diberdayakan untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif
berbasis pariwisata di Pulau Tabuhan.
“Sebagai langkah awal, kami akan
membawa trainer dari luar yang memenuhi kualifikasi. Nantinya juga akan
melibatkan warga lokal untuk dilatih,” urainya.
Pulau Tabuhan sendiri merupakan sebuah
pulau kecil tidak berpenghuni yang berada di wilayah utara Banyuwangi.
Untuk mencapai lokasi tersebut harus menyeberang kurang lebih 15 menit
dari Pantai Bangsring dengan menggunakan perahu. Di sepanjang perjalanan
menuju pulau dengan pantai berpasir putih bersih ini wisatawan bisa
menikmati pemandangan menawan gradasi warna laut mulai hijau, biru muda
sampai biru tua. Kejernihan air juga bakal memanjakan wisatawan yang
gemar berolahraga air seperti snorkling.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas
mengatakan, event Summer Kitesurf Camp yang diikuti banyak pihak dari
luar negeri ini menjadi salah satu cara untuk mempromosikan pariwisata
Banyuwangi, khususnya di wilayah utara, setelah sebelumnya wilayah
selatan telah lebih dulu dikenal lewat wisata pantai seperti Pantai
Pulau Merah, Plengkung, dan Sukamade.
“Satu lagi potensi pariwisata
Banyuwangi yang tergali. Pulau Tabuhan menyimpan pesona yang belum
diketahui banyak orang. Pasir putih yang halus, air laut yang jernih dan
biota lautnya yang menawan. Kami ingin Pulau Tabuhan menjadi destinasi
idola, sehingga makin banyak wisatawan. Tujuan akhirnya apalagi kalau
bukan kesejahteraan masyarakat,” kata Anas.
Ajang ini, ujar Bupati, merupakan
pemanasan sebelum agenda sesungguhnya, yakni International Event
Kitesurfing and Windsurfing Competition pada 2015 yang digelar tahun
depan dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2015.
Kitesurfing sendiri adalah olahraga
selancar di permukaan air yang menggabungkan beragam unsur, mulai dari
selancar angin, selancar, paralayang, bahkan senam menjadi satu jenis
olahraga. Kitesurfing memanfaatkan angin guna mendorong sang atlet untuk
menaklukkan air dengan papan selancar kecil. Para atlet atau pengendara
di papan selancar dihubungkan dengan sebuah layang-layang paralayang.
Para atlet akan berlomba melintasi air dan terkadang di udara.
Adapun windsurfing adalah olahraga dengan memanfaatkan tenaga angin untuk meluncur membelah air.
Berdasarkan data International
Kiteboarding Association, terdapat sekitar 1,5 juta pemain kitesurfing
(kitesurfer) di seluruh dunia. Ini merupakan pasar yang besar untuk
dibidik guna menggairahkan wisata daerah. Perkiraan nilai pasar industri
kitesurfing mencapai USD 250 juta, meliputi nilai penjualan
perlengkapan, penyelenggaraan event, dan sebagainya
Perkembangan olahraga kitesurfing cukup
pesat. Pada 1998, di dunia cuma ada 1 kompetisi kitesurfing dengan
hadiah hanya minuman bir. Hanya dalam jangka tiga tahun, pada 2001
terdapat lebih dari 30 kompetisi dengan hadiah lebih dari USD 50.000,
dan saat ini sekitar 100 event kompetisi.jpnn
Selasa, 29 Juli 2014
Kawah Bulan Sabit, di balik Eksotisnya Kawah Ijen
Siapa yang tidak kenal dengan Kawah Ijen ? Sobat semua pasti
sudah tidak asing lagi dengan Kawah Ijen, kawah yang terkenal dengan keindahan
panorama alamnya dan segala keunikannya. Di kawah ijen juga terdapat fenomena
alam yang hanya ada 2 di dunia, dan hanya satu-satunya di Indonesia, yaitu “Api
Biru”. Dan juga adanya aktivitas penambangan belerang secara tradisional yang
menambah daya tarik kawah ijen.
Tapi, kali ini saya bukan
menceritakan keindahan Kawah Hijau Ijen, karena pastinya sudah akrab bagi sobat
semua. Tetapi saya akan menunjukkan sebuah keindahan alam lainnya yang ada di
sekitar Kawah Ijen, tentang sebuah kawah yang tersembunyi dibalik nama besar
Kawah Ijen, yaitu Kawah Bulan Sabit. Mungkin, nama tersebut masih sangatlah
asing di telinga kita semua. Memang, kawah tersebut sangatlah tersembunyi
sehingga suasana alami sangat kental disana.
Disebelah timur laut kawah ijen,
terdapat sebuah tebing menjulang tinggi yang biasa di
sebut Gunung Merapi. Di puncak gunung tersebutlah terdapat kawah dengan sebuah daratan di tengahnya yang membentuk seperti bulan sabit. Kawah tersebut masihlah sangat perawan dan hampir tidak pernah terjamah. Karena akses untuk menuju kesana sangatlah sulit, belum ada jalur yang jelas untuk mendaki kesana.
sebut Gunung Merapi. Di puncak gunung tersebutlah terdapat kawah dengan sebuah daratan di tengahnya yang membentuk seperti bulan sabit. Kawah tersebut masihlah sangat perawan dan hampir tidak pernah terjamah. Karena akses untuk menuju kesana sangatlah sulit, belum ada jalur yang jelas untuk mendaki kesana.
Mungkin suatu saat, kawah ini juga
akan menjadi desnitasi wisata pendakian di kawasan Banyuwangi yang ramai di
kunjungi. Dari atas puncak merapi, kita juga akan mendapati spot yang sangat
bagus untuk melihat panorama Kawah Ijen dari sudut yang lain, gagahnya Gunung
Raung, dan Kota Banyuwangi.
Senin, 26 Mei 2014
Hari Terakhir Pengunjung Membeludak
PESANGGARAN – Ajang Banyuwangi International Surfing Competition (BISC)
yang berlangsung selama tiga hari di Pulau Merah mampu menyedot
ribuan wisatawan. Hari terakhir kompetisi surfing kemarin,
sekitar sepuluh ribu pengunjung tumpah ruah di pantai yang ter letak di
Desa Sumberagung, Ke camatan Pesanggaran tersebut. Roda ekonomi pun
berge liat. Tukang parkir, penjaja makanan dan minuman, ser ta
outlet- outlet kerajinan khas Banyuwangi kecipratan berkah Pulau Merah.
Dagangan mereka laris manis. Penjunjung pun puas menikmati suguhan BISC yang digeber sejak Jumat (23/5) hingga Minggu siang kemarin (25/5). ”Perkiraan saya, jumlah pengunjung hari terakhir mencapai sepuluh ribu orang. Hari terakhir, pengunjung terus berdatangan,’’ ujar Kepala Desa Sumbergaung, Murwanto. Pengunjung datang dari berbagai daerah. Ada dari Bali, Jember, Situbondo, dan wisatawan lokal Banyuwangi. Sejak pagi mereka berdatangan ke Pulau Merah hingga akses menuju tempat wisata tersebut sempat macet.
Dagangan mereka laris manis. Penjunjung pun puas menikmati suguhan BISC yang digeber sejak Jumat (23/5) hingga Minggu siang kemarin (25/5). ”Perkiraan saya, jumlah pengunjung hari terakhir mencapai sepuluh ribu orang. Hari terakhir, pengunjung terus berdatangan,’’ ujar Kepala Desa Sumbergaung, Murwanto. Pengunjung datang dari berbagai daerah. Ada dari Bali, Jember, Situbondo, dan wisatawan lokal Banyuwangi. Sejak pagi mereka berdatangan ke Pulau Merah hingga akses menuju tempat wisata tersebut sempat macet.
Kendati jarak tempuh menuju Pulau Merah
cukup jauh, warga dari luar kota terlihat antusias menikmati keindahan
Pulau Merah serta suguhan kompetisi surfing. ”Saya berangkat dari Jember
pukul 06.00. Sampai ke Pulau Merah 09.00. Kami sempatkan datang ke
Pulau Merah untuk melihat ajang surfing,’’ ujar Sugiarto,
warga Jember. Sementara itu, banyak komunitas memanfaatkan
penyelenggaraan event surfing berkelas internasional tersebut.
Mereka melakukan gathering dan acara
praktik ilmu. Mulai dari komunitas fotografi, skuter
dan backpacker. Salah satunya kegiatan pembuatanfilm dokumenter
oleh kalangan anak muda. Mereka melakukan short coaching clinic (SCC) di
Balai Desa Sumberagung dan melakukan pengamatan langsung di arena
kompetisi surfing. Mabrur, salah satu peserta kegiatan ini mengaku
sangat tertarik. Selain bisa mendokumentasikan kegiatan kabupaten,
dirinya juga bisa memperoleh pengetahuan seputar film dokumenter.
“Ya, saya senang dilatih sekaligus bias
merekam keramaian. Banyak pengetahuan bersifat human interes yang saya
dapat,” akunya. Salah satu penggagas acara SCC, Khoirudin mengatakan,
pelatihan ini selain disengaja memanfaatkan keberadaan event BISC juga
untuk mendokumentasikan perkembangan geliat ekonomi dan sosisal budaya
di sekitar Pulau Merah pasca promosi wisata yang dilakukan pemerintah
Kabupaten Banyuwangi. “Ini kita latih teman-teman untuk menangkap
perubahan sosial yang ada di masyarakat,” ujar Ketua
Banyuwangi Institute tersebut.
Dibanding tahun lalu, animo masyarakat
untuk membeli produk- produk khas Banyuwangi di sekitar tempat acara
sedikit menurun. Seperti yang diungkapkan Heri, 39, pemilik usaha
kerajinan dan souvenir. Dia mengaku kunjungan warga pada hari
pertama dan kedua sangat kecil. Penurunan hingga 75 persen.
“Penurunan pengunjung dibanding tahun lalau hampir 75 persen,”
keluhnya. Namun demikian, dia mengaku tidak kapok, saat itu dirinya
optimistis jika siang hari kunjungan akan mengalami peningkatan.
Prediksi yang diutarakan Heri ternyata
benar. Menjelang siang ahri, jumlah warga yang berkunjung meningkat
pesat. Bahkan, area parkir yang berada di halamaan Pura penuh sesak.
Begitu juga area parkir mobil yang dipusatkan di sisi utara pantai
terlihat penuh. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)
Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengakui kalau jumlah pengunjung Pulau
Merah mengalami lonjakan cukup besar. Pada hari pertama dan kedua,
jumlahnya tidak seberapa.
Namun, pada Minggu kemarin (25/5)
bertepatan dengan peak season, jumlah pengunjung benar-benar
membeludak. ”Pada hari kedua jumlah wisatawan 6000 sampai 7000 orang.
Hari terakhir makin membeludak. Ini sesuai perkiraan kita,’’ kata
Bramuda. Ke depan, pihaknya tidak hanya fokus pada Pulau Merah.
Destinasi baru seperti Pantai Mustika akan dilakukan acara yang
mampu menyedot pengunjung. ”Masih banyak destinasi wisata baru yang
perlu kita promosikan kepada publik,’’ tandas mantan Camat Pesanggaran
itu.
(radar)
Langganan:
Postingan (Atom)
























