Blogroll

SELAMAT DATANG DI BLOG BANYUWANGI BERSATU YANG SEDERHANA INI | TWITTER: @BwiBERSATU | IG: @bwibersatu | Grup FB : BANYUWANGI BERSATU....
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

WATU GEDEK WISATA YANG MENCOBA BANGKIT KEMBALIW

Mendengar nama Watu Gedek tentu untuk yang tumbuh besar di Banyuwangi era tahun 60an sampai 90an akan mengenal tempat ini. Tempat wisata alam yang berada di tengah hutan pinus wilayah KPH Banyuwangi barat tepatnya di Dusun Krajan Desa Jambewangi kec Sempu ini memang sangat menarik pada masanya, dimana belum banyak tempat wisata yang ditawarkan waktu itu. Namun kepupuleran Watu Gedek beransur sirna dan ditinggalkan pada ahir tahun 90an.
Namun kini tempat wisata alam ini beransur ansur naik kembali. Semenjak ditatanya kembali tempat ini oleh kelompok masyarakat yang sadar akan pentingnya pariwisata guna menunjang kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Joko salah satu masyarakat pengelola tempat ini mengatakan, "Kami ingin masyarakat sekitar sini sejahtera, dengan dibukanya kembali kawasan wisata Watu Gedek masyarakat bisa merasakan hasilnya, karena jika banyak wisatawan yang berkunjung orang jualan jelas makin ramai, walau baru sekitar sebulan tempat ini kami bersihkan dan tata ulang".  Joko juga menambahkan jika dibukanya kembali wisata watu gedek ini juga untuk ikut mengsukseskan program Bupati Banyuwangi dalam pengembangan ekowisata.
Ditanya soal kebersihan tempat Joko menambahkan "untuk sampah pengunjung kami sudah menyediakan beberapa kantong sampah ditempat tempat para pengunjung berjumpul, sedangkan untuk coretan cat semprot di beberapa tempat sengaja akan kami pilah bila ada tulisan-tulisan menunjukkan tahun tua sengaja akan kami buatkan semacam bingkai, seperti disana ada tulisan yang menunjukkan tahun 1968. Sedangkan untuk coretan baru akan kami usahakan untuk dihapus entah bagaimana caranya sembari memperluas areal tempat wisata ini seperti dulu lagi".
Sementara itu camat sempu mengatakan dalam kunjungannya ke watu gedek "pihak kecamatanakan membantu semaksimal mungkin dalam pengembangan patiwisata diwilayahnya. Semoga watu gedek bisa menjadi ikon wisata baru di wilayahnya".
Kedepannya warga sekitar berharap supaya ijin pengelolaan hutan poduksi jadi tempat wisata ini segera didapat dari pehutani sebagai pengelola KPH Banyuwangi Barat mengingat di tempat ini juga dekat dengan situs petilasan Rshi Markandia yang dikelola oleh balai besar purbakala Trowulan sehingga bisa dijadikan paket wisata yang menarik wisatawan untuk berkunjung. (Azi)

Kamis, 12 Februari 2015

Wisata Bahari Pantai Bangsring Banyuwangi Kian Digandrungi

Banyuwangi – Jalan-jalan ke Banyuwangi, selalu menyajikan pengalaman yang menarik dan mengesankan, bagaimana tidak, di kota Gandrung ini kita bisa menemukan banyak hal yang menarik dari kebudayaan suku Osing yang unik, sajian kuliner yang menggoyang lidah, hingga pariwisata yang elok dan memanjakan mata, salah satunya wisata terumbu karang di pantai Bangsring.

Wisata bahari pantai Bangsring terletak di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo, kurang lebih 9 KM sebelah utara kota Banyuwangi dan untuk menuju kesana kita bisa melewati jalan raya Banyuwangi-Situbondo, tepatnya 2 KM sebelah utara pantai watu dodol, untuk mencapai area pantai kita bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat.

Wisata Bahari di pantai Bangsring ini yang paling menarik ialah terumbu karang yang indah dan sangat terawat, sehingga banyak para pengunjung yang datang untuk bersnorkling demi melihat keeksotisan terumbu karang dan ikan-ikan hias di bawahnya. Ombak yang tenang dan Arus bawah laut yang tidak terlalu besar sangat mendukung bagi kita yang baru belajar bersnorkling. Selain itu dangkalnya perairan sekitar pantai juga mencadi ciri khas pantai ini, dan hanya dengan menyelam dikedalaman 50 cm saja kita sudah bisa melihat anggunya terumbu karang dan warna-warni ikan hias di pantai ini.

Fiyan pengunjung mengatakan pantai Bangsring ini merupakan salah satu spot snorkling terbaik di Banyuwangi, menurutnya terumbu karang yang yang masih alami dan beraneka ragam jenis dan rupanya ditambah dengan kondisi perairan yang tenang dan jernih, sangat tepat untuk melihat panorama keindahan alam bawah laut di perairan ini, ditambah kondisi perairan dan terumbu karang yang alami dan bersih, sangat tepat untuk mengabadikan gambar saat menyelam atau bersnorkling didalamnya.



beritajatim

Banyuwangi Dinobatkan Daerah Kendali Obat Tradisional Berbahan Kimia

Banyuwangi – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani bersama Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek memberikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Rabu (11/2/2015).

Penghargaan itu dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang menobatkan Banyuwangi sebagai daerah dengan peran teraktif dalam penanggulangan obat tradisional mengandung bahan kimia obat. Penghargaan diserahkan kepada Pelaksan Tugas Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr Widji Lestariono, di Jakarta.

Puan berharap, daerah yang telah aktif melakukan pengawasan dan pengamanan terhadap keamanan pangan dan jamu tradisonal yang mengadung bahan kimia terus meningkatkan program-programnya. "Terutama jajanan di sekolah-sekolah. Anak-anak merupakan aset negara, kalau sejak muda sudah diracuni bahan kimia bisa menurunkan kualitasnya. Banyuwangi cukup bagus dalam menjalankan program tersebut," katanya.

Kepala Badan POM RI Roy A Sparingga menjelaskan, Banyuwangi merupakan kabupaten yang memiliki atensi tinggi terhadap pengawsan obat dan makanan. Selama mendapat pengawasan dari Badan POM, yang dalam hal ini Balai Besar POM Surabaya, Pemkab Banyuwangi sangat aktif dalam melakukan penanggulangan makanan, seperti melakukan pengawasan rutin di sekolah-sekolah, pasar dan toko jamu tradisional untuk melihat keamanan pangan dan produksinya.

Rio mengatakan, seluruh puskesmas di Banyuwangi setiap tiga bulan sekali mengambil sampel jajanan anak sekolah yang ada di wilayah kerjanya. Seluruh puskesmas di BAnywuangi telah memiliki sarana untuk menguji jajanan sekolah apakah mengandung zat kimia berbahaya, seperti rhodamin, boraks, formalin, methylene yellow. "Hasilnya, pada akhir tahun kemarin, seluruh puskesmas melaporkan tidak ditemukan kandungan berbahahaya pada jajanan anak sekolah di Banyuwangi," katanya.

Jika ditemukan ada bahan atau pangan yang tidak baik, langsung dilakukan pembinaan kepada sekolah dan toko jamu tradisonal agar menghentikan atau tidak memproduksi lagi. “Ini telah kami lakukan secara berkelanjutan,” kata dr Rio.

beritajatim.com

Kamis, 11 Desember 2014

Ubah citra kota santet, Bupati Banyuwangi raih Marketing Champion

Jakarta- Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya kepada Anas di Jakarta, Kamis (11/12). Ajang penghargaan tahunan ini diselenggarakan oleh MarkPlus Inc.

Pendiri MarkPlus yang juga pakar pemasaran Hermawan Kartajaya mengatakan, beragam strategi pemasaran yang dilakukan Bupati Banyuwangi mampu mengangkat pamor daerahnya. Selain menjadi destinasi wisata unggulan, Banyuwangi juga mulai dilirik sebagai tempat berinvestasi.

"Dari ratusan kepala daerah, Pak Azwar Anas adalah salah satu yang inovatif dan sadar marketing. Banyuwangi juga mampu menyinergikan pengembangan destinasi wisatanya dengan pihak lain, termasuk dengan BUMN," ujar Hermawan dalam rilis yang diterima merdeka.com, Kamis (11/12/2014).

Dewan Juri dalam penghargaan ini adalah sejumlah tokoh, antara lain, Menteri Pariwisata Arief Yahya, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, CEO MarkPlus Hermawan Kartajaya, dan Direktur Telkom M. Awaluddin.

Sejumlah kriteria dalam penilaian penghargaan ini antara lain pengaruh dan integritas personal, inovasi, kinerja, dan dampak komunitas. "Bupati Banyuwangi menunjukkan spirit marketing dalam kesehariannya," ujar Hermawan.

Salah seorang dewan juri, Dahlan Iskan, mengatakan, salah satu keunggulan Bupati Banyuwangi adalah kemampuan mengelola external customer dan internal customer sama baiknya.

"Ada kepala daerah lain yang hebat programnya, tapi tidak mampu mengelola para PNS-nya yang sesungguhnya adalah internal customer. Nah, Pak Azwar Anas ini hebat marketing untuk external marketing dengan kemampuan mendorong perubahan PNS secara baik," kata Dahlan.

"Pak Azwar Anas ini juga melakukan segala cara untuk memasarkan Banyuwangi. Saya tahu betul usahanya," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemasaran daerah adalah hal strategis yang harus dilakukan untuk memajukan daerah. Bahkan, Anas memosisikan dirinya sebagai seorang salesman bagi Banyuwangi.

"Setiap ada kesempatan, saya selalu promosi. Di gadget saya lengkap tersimpan file presentasi data, foto, dan video tentang Banyuwangi. Ketemu orang di bandara, lewat Twitter, forum di mana-mana saya selalu pasarkan Banyuwangi," ujarnya.

Anas mengatakan, Banyuwangi memiliki potensi besar yang belum tersentuh dengan maksimal sebelumnya. "Butuh niat kuat, diplomasi tepat dan kerja cerdas untuk menggali potensi itu demi kemajuan daerah. Strategi pemasaran yang tepat dengan mengandalkan banyak saluran distribusi, mulai media konvensional, media sosial, hingga beragam aktivasi, menjadi kuncinya, kata Anas.

Sebelumnya, Banyuwangi memiliki image yang kurang positif sebagai daerah yang terkenal dengan aktivitas kleniknya atau yang biasa dikenal sebagai kota santet. Selain itu daerah ini juga dikelilingi oleh kawasan hutan dan pegunungan yang membuatnya sulit dijangkau. Kini, Banyuwangi semakin mudah diakses dengan adanya bandara yang tiap hari sudah diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air.

"Kami juga mendorong ekowisata yang mengandalkan wisata budaya dan wisata alam yang punya diferensiasi kuat dibanding daerah lain," tuturnya.

Tiap tahun di Banyuwangi digelar event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival yang banyak mengandalkan kerja sama dengan dunia usaha alias private partnership. Ini salah satu cara mengasah lahirnya birokrasi yang punya jiwa entrepreneurship. Dengan
anggaran APBD minimal, kita berupaya menghadirkan berbagai event wisata berkelas, seperti International Tour de Banyuwangi Ijen, Jazz Pantai, dan Festival Gandrung Sewu," tuturnya.

Terjadi perputaran ekonomi yang dinamis selama Banyuwangi Festival. Banyak orang yang datang, menginap di hotel-hotel, makan dan berbelanja oleh-oleh. Dengan berbagai event ini juga menunjukkan kalau Banyuwangi adalah daerah aman untuk daya tarik bagi masuknya investasi. Ibaratnya, menembak tiga burung dengan satu peluru, cetus Anas.

Hasilnya, pada 2013, investasi yang masuk di Banyuwangi mencapai Rp 3,2 triliun, meningkat hingga 175% dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,1 triliun. Jika dibandingkan dengan 2010 yang investasinya baru Rp 272 miliar, investasi di Banyuwangi melonjak drastis hampir 1.100%.

Citra Banyuwangi juga mulai bergeser menjadi kabupaten Digital Society di mana 1.300 titik wi-fi telah terpasang di berbagai tempat. Layanan publik juga mulai berbasis teknologi informasi, mulai dari administrasi kependudukan, pendidikan, sampai kesehatan.

"Tahun depan kami akan memperkuat brand Banyuwangi sebagai destinasi ekowisata dan investasi. Sudah ada beberapa strategi yang kami siapkan," pungkasnya.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyabet gelar Indonesia Marketing Champion 2014 untuk kategori kalangan pemerintahan (Government) karena dinilai cukup berhasil memasarkan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu.

merdeka

Pemkab Akan Bangun Jalan Lintas Utara

GLENMORE – Harapan warga Kecamatan Glenmore, Kalibaru, dan Sempu, membangun jalan lintas utara tampaknya akan segera terwujud. Pemkab Banyuwangi kini telah mengagendakan pembangunan jalan alternatif itu. Pembangunan jalur lintas utara yang akan menghubungkan tiga kecamatan ltu akan membuka akses ekonomi bagi warga di tiga kecamatan. “Masyarakat sudah lama mendambakan jalur lintas utara itu,” cetus anggota DPRD asal Desa Sepanjang. Kecamatan Glenmore, Ahmad Masrohan.
Dalam pembangunan jalan lintas utara itu, jelas dia, hanya ada satu kendala. yakni karena melalui daerah Perkebunan PTPN Xll. menyelesaikan kendala ltu, dirinya akan mengajak empat anggota DPRD lain dari Kecamatan Glenmore, seperti Moh. Ruliyono, M. Sahlan, Ecky Septalinda, dan Eko Susilo Nur Hidayat. “Saya akan mengajak diskusi bareng dengan pihak perkebunan terangnya. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Cipta Karya. dan lima Ruang (Dis PU BMCKTR) Banyuwangi.
Mujiono. mengatakan selama ini sudah mendengar harapan masyarakat agar dibangun jalur lintas utara yang meliputi Kecamatan Sempu, Glenmore, dan Kalibaru. Jalan lintas utara itu, terang dia, sebenarnya sudah ada. Hanya saja. sampai saat ini belum dimaksdkan karena jalan masih berupa tanah dan makadam. “Kita juga punya keinginan agnrjalan llnlas utara berfungsi. karena dari Sempu bisa tembus Glenmore dan Kalibaru,” katanya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Malahan terang dia, jalur lintas utara tersebut sudah mulai diperbaiki, terutama dari sisi Kecamatan Kalibaru dan Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore.
“Dari arah timur sudah kita hotmix. Jembatan di Kalibaru juga sudah kita bangun,” ujarnya. Kendala pembangunan jalur lintas utara itu, masih kata dia, hanya di perbatasan Dusun Salamrejo, Desa Tulungrejo, dan Dusun Sepanjang Wetan, Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore. Daerah itu, jelas dia, masuk areal perkebunan PTPN XII dengan panjang sekitar dua kilometer. “Kalau lahan perkebunan bisa digunakan untuk jalan tembus, kita akan ikut senang dan jalur lintas utara bisa kita anggarkan,” tuturnya. (radar)

Minggu, 19 Oktober 2014

Warga Banyuwangi Temukan Penampakan Putri Duyung Saat Belah Batu Akik



photo by detik
Banyuwangi - Seorang pengrajin batu akik dan permata membuat geger. Awad (25) warga Jalan Bunyuwangi No 50 Kelurahan Lateng, Banyuwangi, menemukan gambar menyerupai putri duyung dengan kaki bersisik seperti ikan, saat memproses batu bongkahan untuk menjadi akik.

"Baru dibelah, batu tersebut muncul gambar‎ itu. Saya heran ini kali kedua saya ketemu gambar seperti ini," ujar Awad kepada detikcom di rumahnya, Minggu (19/10/2014).

Alhasil, Awad tidak berani meneruskan proses pemotongan batu mentah tersebut. Bahkan saking takutnya Awad menceritakan kejadian ini kepada keluarga dan teman temannya, hingga akhirnya berita tersebut ramai di kalangan warga sekitar.

"Ini sudah yang kedua kali saya mengalami hal seperti ini. Yang pertama saat membelah batu ada gambar orang bersurban, yang kedua ini ada gambar sesosok putri duyung dengan kaki bersisik," ujarnya.

Berkembangnya kabar tersebut akhirnya galeri "Kolang Kaling" miliknya setiap hari ramai dikunjungi orang baik dalam kota maupun luar kota.

"Saya ini heran kok sering mengalami kejadian seperti ini, padahal niat saya hanya memproses batu mentah dan dijadikan batu akik agar bisa dijual menjadi permata," ujar Awad heran.

Sementara dari kejadian ini, batu bongkahan yang akan diproses menjadi batu akik tersebut telah banyak ditawar kolektor batu. "Batu ini sudah ditawar kolektor dari Bali seharga Rp 25 juta," ujar Awad.
   
photo by detik

detik


Sabtu, 18 Oktober 2014

Media Sosial Bikin Destinasi Kian Diminati Wisatawan

BANYUWANGI - Sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, makin banyak dikunjungi wisatawan. Salah satu faktor pengungkitnya, menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, adalah dampak dari media sosial seperti Twitter, Facebook, Path, dan Instagram, terutama berkat tren selfie.
"Banyak yang berkunjung ke destinasi wisata Banyuwangi seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Plengkung, Pulau Tabuhan, dan Teluk Hijau. Mereka selfie di sana lalu di-upload di media sosial. Teman atau follower-nya ikut lihat dan tertarik datang ke Banyuwangi. Pernah saya jumpa wisatawan dari Singapura yang datang ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Ternyata mereka tahu destinasi wisata itu dari foto di Instagram temannya yang sudah pernah ke Banyuwangi," ujar Anas di sela-sela pelaksanaan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), Sabtu (18/10).
Selain tempat wisata, kuliner khas Banyuwangi juga diminati berkat banyaknya masyarakat yang berfoto ria di media sosial sesaat sebelum menikmati kuliner Banyuwangi, seperti rujak soto, nasi tempong, maupun pecel rawon. "Sekarang ini orang selfie bukan hanya pas makan burger, steak, atau pizza. Justru mereka merasa keren selfie saat makan kuliner khas nusantara seperti yang ada di Banyuwangi," kata bupati berusia 41 tahun itu.
Dengan jumlah pengguna Twitter di Indonesia yang mencapai sekitar 20 juta, Facebook sebanyak 69 juta pengguna, atau Path lebih dari 4 juta pengguna; media sosial mampu menciptakan perbincangan positif tentang pariwisata Banyuwangi. "Kami ingin membangun conversation positif tentang pariwisata Banyuwangi, termasuk dari event-event yang kami gelar seperti balap sepeda, selancar, karnaval etnik, atau jazz pantai yang semuanya masuk rangkaian Banyuwangi Festival," papar Anas.
Anas menyadari, era pemasaran saat ini sudah sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, khususnya internet. Karena itulah, model pemasaran wisata Banyuwangi juga mulai banyak mengandalkan instrumen teknologi informasi. Pemkab Banyuwangi juga telah meluncurkan aplikasi wisata berbasis Android yang diberi nama "Banyuwangi Tourism".
Aplikasi itu memuat beragam informasi, mulai kalender wisata, restoran dan pusat kuliner, penginapan, kontak pemandu wisata, peta wisata, sampai alamat dan nomor telepon penting yang sewaktu-waktu mungkin dibutuhkan wisatawan, seperti kantor polisi, puskesmas, serta rumah sakit.
Tentu saja, sambung Anas, model pemasaran lain seperti bekerja sama dengan agen perjalanan juga ikut menunjang bergairahnya pariwisata di Banyuwangi. Demikian pula pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata juga dilakukan. Kehadiran bandara yang diterbangi Garuda Indonesia dan Wings Air setiap hari juga memudahkan wisatawan untuk berkunjung.
Berkat sejumlah strategi itulah, kunjungan wisatawan di Banyuwangi terus meningkat. "Tahun ini kami targetkan wisatawan lokal tembus 3 juta orang, naik sekitar 200% dibanding tahun lalu. Sedangkan wisatawan asing bisa mencapai sekitar 23.000 orang, naik lebih dari 100% dibanding tahun lalu. Ini nantinya berdasarkan data tiket di destinasi wisata dan kunjungan hotel," kata dia. 

Minggu, 14 September 2014

Kreatifitas Tiada Henti di Banyuwangi Batik Festival 2014

BANYUWANGI - Ajang untuk menggerakkan roda pariwisata dan industri kreatif kembali digelar di Kabupaten Banyuwangi. Daerah berjuluk "The Sunrise of Java" itu untuk kali kedua menyelenggarakan Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang acara puncaknya digelar pada 20 September mendatang di Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi.

Pergelaran BBF ini merupakan wujud komitmen pemerintah dan masyarakat Banyuwangi dalam menumbuhkembangkan kekayaan budaya lokal, khususnya untuk mengeksplorasi khazanah kekayaan batik lokal. "Saat daerah lain semangat membawa tema budaya luar/global ke tingkat lokal, kami justru membawa tema budaya lokal ke level global. Salah satunya lewat Batik Festival ini," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

"Di Banyuwangi, kami ingin menampilkan batik tidak hanya menjadi penanda, namun sebuah kebanggaan yang berujung pada kesejahteraan para pelaku industri ini,” imbuh Anas.

Batik kini bukan lagi dianggap bagian dari gaya lawas, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Batik telah menjadi tren. "Tren ini harus dijawab dengan keseriusan semua elemen untuk mendorong pengembangan batik, baik dari sisi desain, kemasan event, maupun aspek ekonominya," kata Anas.

Setelah tahun lalu mengeksplorasi motif "Gajah Oling", tahun ini BBF akan mengangkat motif "Kangkung Setingkes". Motif ini adalah satu dari 44 motif batik Banyuwangi yang paling mudah ditemui setelah motif batik "Gajah Oling".

BBF 2014 dirangkai dengan 5 event sekaligus. Ajang ini dimulai dengan lomba desain motif batik untuk menambah kekayaan motif batik Banyuwangi yang saat ini telah ada. “Tidak pernah ada batasan untuk kreatifitas. Kami ingin batik banyuwangi semakin kaya dengan tidak meninggalkan orisinalitas dan kearifan budaya daerah,” kata Anas.

Berbarengan dengan lomba desain motif batik, juga dilaksanakan lomba desain busana batik yang diikuti oleh 28 desainer Banyuwangi. Lomba ini memberi kesempatan bagi desainer-desainer asli daerah untuk memperkenalkan karyanya kepada publik luas. “Ini juga menjadi kesempatan baik para desiner batik untuk membuka jaringan dengan dunia industri fesyen,” tutur Anas.

Selanjutnya digelar lomba mencanting  pada 20 September, lomba modelling dan pameran promosi wisata. Pameran sendiri akan berlangsung mulai 18 – 20 September mendatang. Pada tahun lalu, antusiasme masyarakat pada pameran batik sangat tinggi, bahkan omzet penjualan peserta industri kecil menengah (IKM) batik selama 3 hari pameran berlangsung mencapai Rp 500. juta

“BBF akan membawa dampak langsung pencapaian omzet IKM batik yang lebih tinggi,” ujarnya.

Yang cukup istimewa, BBF kali ini juga akan melibatkan desainer batik ternama Indonesia, Priscila Saputro, yang pernah mendesain busana Miss Universe 2012 Olivia Culpo, Miss Universe 2013 Gabriela Isler, Puteri Indonesia 2013 Whulandary Herman, dan Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira. Priscila akan berdialog dengan para desainer muda Banyuwangi.

”Priscila kami libatkan untuk memotivasi desainer-desainer muda daerah. Kami juga ingin  mengangkat kualitas busana batik banyuwangi menuju level yang lebih tinggi,” ujar Bupati Anas.

Sebagai pemanasan BBF, pada 19 September juga akan digelar Batik On Pedestrian  di Taman Blambangan. Even ini memberi kesempatan bagi 250 pelajar SMK, SMA, profesional perbankkan dan pegawai negeri sipil  untuk tampil memamerkan batik fashion dengan tema casual, kerja dan pesta. Putri Indonesia Elvira Devinamira akan menjadi juri pada even ini. “Kita ingin masyarakat Banyuwangi menjadi bagian dalam mempromosikan Batik sekaligus menumbuhkan kecintaan pada batik daerah,” ungkap Anas.

Selain bisa menikmati keindahan batik pesisiran khas Banyuwangi, para pengunjung pada hari yang sama bisa menikmati Festival Rujak Soto dan Banyuwangi Art Week. Sebuah festival kuliner yang bakal menampilkan ratusan penjual Rujak Soto. Rujak soto adalah makanan khas Banyuwangi, dimana rujak petis dicampur dengan soto daging. 

"Datang ke Banyuwangi sangat mudah sekarang. Selain bisa ditempuh kereta, saat ini tiap hari telah ada dua kali penerbangan Denpasar - Banyuwangi - Surabaya oleh Garuda Indonesia dan Wings Air. Ayo datang, saksikan, dan berbanggalah menjadi bagian dari kekayaan khasanah Banyuwangi," pungkas Anas.
 gatranews

Akhir Pekan Pulau Tabuhan Banjir Wisatawan

BANYUWANGI – Pulau Tabuhan kian bersinar sebagai salah satu destinasi wisata bahari di Banyuwangi. Pulau terluar di pesisir utara Banyuwangi tersebut terus dibanjiri wisatawan lokal dan mancanegara. Tingginya animo kunjungan itu tidak terlepas dari bertambahnya akses menuju ke pulau tidak berpenghuni tersebut.
Sebelumnya, para wisatawan menggunakan Pantai Kampe sebagai spot pemberangkatan. Kali ini Pantai Bangsring di Kecamatan Wongsorejo pun bisa dijadikan akses menuju ke Pulau Tabuhan. Bahkan, posisinya lebih dekat karena berhadapan dengan pulau yang memiliki pasir putih itu.
Meski menjadi akses dan spot baru ke Pulau Tabuhan, Pantai Bangsring ternyata memiliki fasilitas yang memadai. Selain dilengkapi gazebo, tersedia moda perahu yang bisa dijadikan sarana transportasi menuju ke Pulau Tabuhan. ’’Perahunya siap setiap saat untuk mengangkut wisatawan ke Pulau Tabuhan,’’ tutur Ikhwan Arief, salah seorang penggagas wisata bahari di Pulau Tabuhan.
Sebelum ke Pulau Tabuhan, para wisatawan bisa lebih dulu menikmati keindahan Pantai Bangsring. Pantai tersebut cocok untuk olahraga menyelam. Apalagi terdapat terumbu karang yang ditangani secara swakelola oleh kelompok nelayan dan warga pesisir Bangsring.
Menurut Ikhwan, pengunjung bisa memilih olahraga selam di Pulau Tabuhan atau Pantai Bangsring. Menjelang akhir pekan, Pulau Tabuhan ramai dikunjungi wisatawan. Tidak sekadar berkunjung, banyak pula yang menikmati olahraga air seperti kitesurfing
jpnn

Rabu, 03 September 2014

Hotel di Banyuwangi Diharuskan Miliki Alat Musik Tradisional

BANYUWANGI - Pengusaha perhotelan diwajibkan memiliki peralatan musik tradisional sebagai salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memperkenalkan budaya Osing khas Banyuwangi.

Ben dari Radio Mandala Banyuwangi pada Jaring Radio Suara Surabaya, Selasa (2/9/2014), melaporkan, hingga kini Pemkab Banyuwangi masih terus berupaya memperkenalkan tradisi khas Banyuwangi, seperti tarian dan musik Banyuwangi, kepada setiap turis yang datang ke Banyuwangi, dari turis domestik maupun turis mancanegara.

Wiyono Asisten Perekonomian Pemkab Banyuwangi menyampaikan, sebagai bentuk untuk pelestarian budaya osing Banyuwangi, Pemkab Banyuwangi mengharapkan kepada semua pengusaha perhotelan di Banyuwangi turut berperan aktif di dalamnya.

Sebagai salah satu bentuk pastisipasi dalam upaya untuk memperkenalkan budaya Osing oleh pihak perhotelan, yakni dengan mempertontonkan musik tradisional Osing kepada setiap tamu yang berkunjung dan menginap di hotel tersebut.(nif/ipg)

suara surabaya

Rabu, 27 Agustus 2014

Pasokan Telat, SPBU di Banyuwangi Tutup

Banyuwangi - Pertamina terlambat memasok bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Akibatnya, hari ini, Rabu 27 Agustus 2014, sejumlah SPBU terpaksa tutup sementara karena stok Premium dan solar kosong.

Pertamina sebenarnya telah mencabut pembatasan BBM bersubsidi sejak Selasa malam kemarin. Namun, hingga pukul 12.00 WIB hari ini, pasokan BBM bersubsidi ke beberapa SPBU belum normal kembali. Misalnya, di SPBU 54.684.037 di Desa Kedayunan, pompa Premium dan solar ditutup karena suplai dari Pertamina belum tiba.

Menurut pengawas SPBU Kedayunan, Djunaiyah, persediaan Premium dan solar sudah habis sejak pukul 09.00 WIB tadi. Hari ini pihaknya telah menjual seluruh stok Premium dan solar masing-masing sebanyak 16 kiloliter. "Sekarang sudah habis, Pertamina telat kirim," katanya.

SPBU di Desa Labanasem bahkan telah tutup sejak pukul 07.30 WIB. Menurut pegawainya, Chandra Utomo, stok Premium sebanyak 8 kiloliter yang dipasok pada Selasa lalu telah habis. Sedangkan solar justru habis lebih cepat karena hanya dipasok dua hari sekali.

Enam pegawai SPBU Labanasem tampak hanya duduk di lantai kantor. Menurut Chandra, pihaknya telah mengorder BBM bersubsidi sejak Selasa kemarin. Namun, hingga Rabu pukul 12.00, Pertamina belum mengirim pesanannya. "Biasanya maksimal jam sebelas siang sudah dikirim," katanya.

Beberapa SPBU lain yang telah mendapatkan pasokan BBM bersubsidi langsung diserbu pembeli. Di SPBU Brawijaya, misalnya, antrean sepeda motor dan mobil pribadi terlihat memenuhi halaman stasiun itu.

tempo

Sabtu, 09 Agustus 2014

Bandara Banyuwangi Dilengkapi Fasilitas Terminal Jet Pribadi

Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus berupaya mengoptimalkan fungsi Bandara Blimbingsari. Setelah penambahan rute dan pesawat komersil dan pembangunan fasilitas sekolah pilot, Bandara Blimbingsari sekarang dijadikan sebagai terminal private jet alias pesawat jet pribadi.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, terminal khusus jet pribadi ini diperuntukkan bagi pesawat-pesawat dengan kapasitas di bawah 30 tempat duduk. Terminal private jet itu dikelola oleh operator fixed base operation (FBO) CEO Jetset. FBO adalah pihak komersial yang diberi izin untuk mengoperasikan sejumlah layanan di bandara, termasuk penyewaan pesawat.
Operator CEO Jetset menyewa sejumlah fasilitas d Bandara Blimbingsari untuk dijadikan terminal general aviation. General aviation adalah salah satu sub sektor penerbangan yang antara lain melayani penerbangan pesawat jet pribadi dan pesawat pesanan.
"Terminal private jet di Banyuwangi ini untuk tahap awal tidak harus membangun apa-apa dulu. Operatornya akan memakai Ruang VIP baru bandara sebagai lounge, dan runway atau landasan Bandara Blimbingsari yang 1.800 meter sudah cukup untuk pendaratan pesawat jet," kata Anas di Banyuwangi, Jumat (8/8).
Sementara itu, Presiden Komisaris CEO Jetset, Rendra Darmakusuma, menjelaskan, layanan jet pribadi ini akan segera beroperasi di Banyuwangi paling lambat awal 2015. Saat ini, kata dia, FBO terminal private jet ini hanya ada satu di Indonesia, yakni di bandara Ngurah Rai Bali.
"FBO di Indonesia hanya satu, dan operatornya adalah asing. Pengembangan di banyuwangi ini akan jadi pertama di Indonesia yang operatornya adalah putra Indonesia," kata Rendra yang juga pengusaha asli Banyuwangi.
Saat ditanya alasan membuka terminal private jet ini, Rendra menjelaskan bahwa potensi Banyuwangi cukup menjanjikan. Selain potensi pariwisatanya, perkembangan lalu lintas penerbangan ke Banyuwangi cukup cerah.
"Sudah ada dua maskapai ke Banyuwangi itu salah satu menandakan bahwa geliat industri penerbangan di Banyuwangi semakin berkembang. Di samping juga ada hanggar sekolah penerbangan yang bisa dimanfaatkan," katanya.
FBO ini akan dilengkapi sejumlah fasilitas antara lain jasa pemeliharaan pesawat, hanggar untuk ruang penyimpanan pesawat, dan lounge. "Ke depan kita berencana memperluas hingga helicopter maintenance," ujar Rendra.

BeritaSatu

Kamis, 07 Agustus 2014

Jadi Kota Welas Asih, Banyuwangi Sejajar dengan Atlanta, Houston, dan Seattle

BANYUWANGI,  -– Memiliki sejumlah program yang menghargai nilai-nilai kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan membuat  Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dijadikan sebagai Kota Welas Asih (Compassionate City). Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion) di Banyuwangi, Selasa (5/8/2014).

Dengan menandatangani piagam tersebut, Banyuwangi masuk dalam jaringan 40 kota di dunia yang telah ditetapkan menjadi Kota Welas Asih sesuai inisiasi program Compassion Action International. Saat ini, 231 kota di berbagai negara sedang dalam proses menjadi Kota Welas Asih. Yang telah ditetapkan sebagai Kota Welas Asih antara lain Atlanta, Appleton, Denver, Houston, Seattle (semuanya Amerika Serikat), Capetown (Afrika Selatan), Eskilstuna (Swedia), Groningen dan Leiden (Belanda), Botswana, Parksville (Kanada), serta Gaziantep (Turki).

Charter for Compassion juga telah ditandatangani oleh lebih dari 100.000 tokoh di dunia, termasuk sejumlah tokoh terkemuka di Indonesia. Compassion Action International digerakkan oleh sejumlah tokoh, di antaranya pakar agama Karen Armstrong dan Presiden Masyarakat Islam Amerika Utara Imam Mohamed Magid.

”Banyuwangi berkomitmen menjadi daerah yang penuh cinta, bertaburan kasih sayang, tidak hanya dalam konteks ekonomi tetapi juga secara hubungan sosial antarwarganya,” ujar Anas seusai menandatangani Charter for Compassion.

Anas menyebut sejumlah program di Banyuwangi sudah merepresentasikan prinsip-prinsip kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan. Misalnya, pertemuan rutin lintas agama, gerakan Siswa Asuh Sebaya yang menjalin solidaritas antarsiswa, Gerakan Sedekah Oksigen yang melibatkan semua tokoh agama untuk kampanye lingkungan, ambulans 24 jam untuk melayani warga, serta pemberantasan buta aksara dan anak putus sekolah yang menjunjung tinggi aksesibilitas warga dalam menikmati layanan pendidikan.

Selain itu, program-program seperti bantuan permodalan untuk usaha kecil, bantuan benih untuk petani dan pembudidaya ikan, beasiswa untuk siswa dari keluarga miskin dan penyandang disabilitas, bedah rumah, dan gerakan pengentasan kemiskinan lainnya juga menjadi contoh kebijakan publik yang berbasis kemanusiaan. ”Dengan segala kekurangan yang masih ada, kebijakan publik ke depan harus mampu memanusiakan manusia,” ujar Anas yang pernah menempuh studi singkat ilmu kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat, tersebut.

Anas mengatakan, ajaran agama pada dasarnya mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Karena itu, mendorong sebuah gerakan kasih sayang hingga ke level daerah menjadi penting untuk menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks. ”Bagaimana daerah bisa memasukkan prinsip kemanusiaan dalam setiap kebijakan, baik kebijakan ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, pendidikan, maupun kesehatan,” tuturnya.

Dia mencontohkan, di bidang pendidikan, para pendidik berkomitmen untuk menjadikan sekolah mereka sebagai sekolah welas asih atau compassionate school. Sekolah yang bebas disktriminasi, kekerasan, aman dan nyaman bagi siswa. ”Pendidik dan pelajar bukan hanya mempelajari tapi juga mempraktikan nilai kasih sayang, cinta, dan menghargai perbedaan. Tumbuh berprestasi bersama-sama, bukan menciptakan persaingan tidak sehat sejak masa kecil,” kata dia.

Demikian juga di bidang pelayanan publik, dengan menjadi bagian dari Kota Welas Asih, birokrat di Banyuwangi secara berkelanjutan meningkatkan pelayanan dan membangun fasilitas publik yang lebih manusiawi. Program inovatif pelayanan publik telah dilakukan seperti Bayi Lahir Pulang Bawa Akta, One Stop Services, dan SMS Gateway. Ke depan, itu akan diperluas. ”Suara kritis publik diakomodasi, bisa lewat SMS Center, Twitter, maupun pertemuan-pertemuan langsung,” ujarnya.

Anggota Global Compassion Council Dr Haidar Bagir yang hadir di Banyuwangi mengatakan, dengan mendatangani Charter for Compassion, Banyuwangi sudah masuk jaringan 40 kota di dunia yang sebelumnya telah menjadi Compassionate City. ”Dan ini akan menjadi platform bagi Banyuwangi untuk bekerja sama dengan kota-kota lainnya yang ada di Amerika Serikat, Eropa, Afrika, dan Asia,” ujar Haidar.

Ditambahkan Haidar, Banyuwangi adalah daerah pertama di Indonesia yang direkomendasikannya sebagai Kota Welas Asih. Saat ini tiga daerah lain, yaitu Jakarta, Bali, dan Bandung, sedang dalam tahap proses untuk menjadi Kota Welas Asih. ”Ini saatnya  membalikkan kehidupan masyarakat yang semakin individualistik menjadi lebih humanis, daerah harus semakin pro-warganya. Ini sudah sejalan dengan program yang telah dijalankan di Banyuwangi,” ujarnya.

Dengan menjadi Kota Welas Asih, ada beberapa keuntungan yang bisa didapat Banyuwangi Pertama, untuk memperkuat branding Banyuwangi. Kedua, mempunyai jaringan internasional untuk saling bertukar pengalaman dan sumberdaya dalam membangun daerah. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Compassionate Action, bisa mengunjungi website www.charterforcompassion.com.
JPNN

Senin, 26 Mei 2014

Hari Terakhir Pengunjung Membeludak

PESANGGARAN – Ajang Banyuwangi International Surfing Competition (BISC) yang berlangsung selama tiga hari di Pulau Merah mampu menyedot ribuan wisatawan. Hari terakhir kompetisi surfing kemarin, sekitar sepuluh ribu pengunjung tumpah ruah di pantai yang ter letak di Desa Sumberagung, Ke camatan Pesanggaran tersebut. Roda ekonomi pun berge liat. Tukang parkir, penjaja makanan dan minuman, ser ta outlet- outlet kerajinan khas Banyuwangi kecipratan berkah Pulau Merah.
Dagangan mereka laris manis. Penjunjung pun puas menikmati suguhan BISC yang digeber sejak Jumat (23/5) hingga Minggu siang kemarin (25/5). ”Perkiraan saya, jumlah pengunjung hari terakhir mencapai sepuluh ribu orang. Hari terakhir, pengunjung terus berdatangan,’’ ujar Kepala Desa Sumbergaung, Murwanto. Pengunjung datang dari berbagai daerah. Ada dari Bali, Jember, Situbondo, dan wisatawan lokal Banyuwangi. Sejak pagi mereka berdatangan ke Pulau Merah hingga akses menuju tempat wisata tersebut sempat macet.
Kendati jarak tempuh menuju Pulau Merah cukup jauh, warga dari luar kota terlihat antusias menikmati keindahan Pulau Merah serta suguhan kompetisi surfing. ”Saya berangkat dari Jember pukul 06.00. Sampai ke Pulau Merah 09.00. Kami sempatkan datang ke Pulau Merah untuk melihat ajang surfing,’’ ujar Sugiarto, warga Jember. Sementara itu, banyak komunitas memanfaatkan penyelenggaraan event surfing berkelas internasional tersebut.
Mereka melakukan gathering dan acara praktik ilmu. Mulai dari komunitas fotografi, skuter dan backpacker. Salah satunya kegiatan pembuatanfilm dokumenter oleh kalangan anak muda. Mereka melakukan short coaching clinic (SCC) di Balai Desa Sumberagung dan melakukan pengamatan langsung di arena kompetisi surfing. Mabrur, salah satu peserta kegiatan ini mengaku sangat tertarik. Selain bisa mendokumentasikan kegiatan kabupaten, dirinya juga bisa memperoleh pengetahuan seputar film dokumenter. 
“Ya, saya senang dilatih sekaligus bias merekam keramaian. Banyak pengetahuan bersifat human interes yang saya dapat,” akunya. Salah satu penggagas acara SCC, Khoirudin mengatakan, pelatihan ini selain disengaja memanfaatkan keberadaan event BISC juga untuk mendokumentasikan perkembangan geliat ekonomi dan sosisal budaya di sekitar Pulau Merah pasca promosi wisata yang dilakukan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. “Ini kita latih teman-teman untuk menangkap perubahan sosial yang ada di masyarakat,” ujar Ketua Banyuwangi Institute tersebut.
Dibanding tahun lalu, animo masyarakat untuk membeli produk- produk khas Banyuwangi di sekitar tempat acara sedikit menurun. Seperti yang diungkapkan Heri, 39, pemilik usaha kerajinan dan souvenir. Dia mengaku kunjungan warga pada hari pertama dan kedua sangat kecil. Penurunan hingga 75 persen. “Penurunan pengunjung dibanding tahun lalau hampir 75 persen,” keluhnya. Namun demikian, dia mengaku tidak kapok, saat itu dirinya optimistis jika siang hari kunjungan akan mengalami peningkatan. 
Prediksi yang diutarakan Heri ternyata benar. Menjelang siang ahri, jumlah warga yang berkunjung meningkat pesat. Bahkan, area parkir yang berada di halamaan Pura penuh sesak. Begitu juga area parkir mobil yang dipusatkan di sisi utara pantai terlihat penuh. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengakui kalau jumlah pengunjung Pulau Merah mengalami lonjakan cukup besar. Pada hari pertama dan kedua, jumlahnya tidak seberapa.
Namun, pada Minggu kemarin (25/5) bertepatan dengan peak season, jumlah pengunjung benar-benar membeludak. ”Pada hari kedua jumlah wisatawan 6000 sampai 7000 orang. Hari terakhir makin membeludak. Ini sesuai perkiraan kita,’’ kata Bramuda. Ke depan, pihaknya tidak hanya fokus pada Pulau Merah. Destinasi baru seperti Pantai Mustika akan dilakukan acara yang mampu menyedot pengunjung. ”Masih banyak destinasi wisata baru yang perlu kita promosikan kepada publik,’’ tandas mantan Camat Pesanggaran itu.

 (radar)

Minggu, 25 Mei 2014

Omzet Pedagang Naik Hingga 300 Persen Selama Event Surfing

turis asing menikmati bakso di pulau merah
Banyuwangi - Dampak dari even Pulau Merah Banyuwangi Surfing international competition,sangat dirasakan masyarakat,khususnya para pelaku ekonomi.selama tiga hari digelarnya lomba surfing tingkat internasional ini,pendapatan para pedagang yg berada di lokasi surfing naik hingga 300 persen. Seperti yang diungkapkan Iwan (30) pedagang batik yang berjualan di Pulau Merah."Selama ada event,pendapatannya meningkat 6 kali lipat. Biasanya aku jualan keliling dapat Rp 500 ribu per minggu. Alhamdulilh ada surfing bisa mendapat Rp.3 juta selama sehari,"kata Iwan. Lain Iwan lain dengan Imajudin, salah seorang pedagang yang memiliki warung permanen di Pulau Merah. Menurut Imajudin yang sehari-hari menjajakan nasi dan es degan ini, mengaku warungnya laris manis diserbu masyarakat.Biasanya dia hanya hanya mendapat omzet Rp.500 ribu saat hari Sabtu dan Minggu. Ini sehari mendapat Rp.1 juta.Sementara Miseri (45) penjual bakso yang berada di sekitar Surfing,menyatakan sangat senang ada event ini.Karena selain mendapat keuntungan yang berlipat-lipat, dia mengaku diuntungkan dengan even Surfing ini. "Sejak ada surfing tahun lalu,Pulau Merah jadi terkenal, ini membawa dampak yang positip bagi kelangsungan hidup kami.Pulau Merah semakin ramai dan terus dikunjungi orang.Saya senang dengan Bupati yang memikirkan nasib rakyat.Tapi saya minta diatur pedagangnya biar semua bisa dapat untung," kata Miseri.Selain pedagang permanen dan keliling yang merasakan geliat ekonomi,juga tampak beberapa UMKM yang membuka stand di area kompetisi surfing merasakan hal yang sama. Diantaranya handycraf,industri garmen,souvenir,batik,produk makanan khas Banyuwangi dan pengrajin kaos lukis.

Sabtu, 24 Mei 2014

Banyuwangi kembangkan pusat-pusat wisata baru

Banyuwangi  - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengembangkan pusat-pusat wisata baru untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

Pemerintah Banyuwangi sedang giat mempromosikan Pantai Pulau Merah di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, sebagai daerah tujuan wisata baru.

Upaya promosi antara lain dilakukan dengan menggelar acara-acara berskala internasional seperti kejuaraan selancar "Pulau Merah International Surfing Championship 2014" yang dibuka di tepi Pantai Pulau Merah, Jumat.

"Kejuaraan surfing ini hanya instrumen untuk mendorong agar destinasi wisata bisa berkembang," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

"Ini bagian dari ikhtiar pemerintah daerah," katanya.

Penyelenggaraan kejuaraan selancar internasional semacam itu, menurut dia, terbukti ikut mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi.

Menurut pemerintah daerah, penyelenggaraan kompetisi selancar internasional di Pulau Merah tahun 2013 memberikan sumbangan besar bagi peningkatan kunjungan wisatawan yang selama kurun waktu itu sampai 100 persen lebih.

"Dan tempat wisata begitu dibangun, mereka datang, makan soto, rawon, bayar tunai semua... Lalu ada yang bikin penginapan...," katanya.

Kawasan lain yang akan dikembangkan adalah Pantai Plengkung (G-Land) yang sudah lama dikenal sebagai salah satu surga bagi peselancar profesional dengan gulungan ombak yang bisa mencapai lima sampai enam meter.

"Meski sudah cukup dikenal tapi infrastruktur masih perlu dibenahi, itu fokus kami ke depan," katanya.

Selain itu pemerintah Banyuwangi juga akan mengembangkan kawasan wisata Teluk Hijau, Pantai Sukamade, hutan mangrove Blok Bedul dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo, dan wisata kawasan perkebunan.

Daerah-daerah wisata yang sudah terkenal seperti Kawah Ijen dan Taman Nasional Alas Purwo juga akan dibenahi infrastrukturnya.

"Pembenahan sudah mulai dilakukan, setiap tahun kami bangun 250 kilometer sampai 300 kilometer jalan per tahun," kata Abdullah.

Pengembangan pariwisata diharapkan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi daerah Banyuwangi yang utamanya bertumpu pada sektor pertanian.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan pembangunan industri pariwisata Banyuwangi sudah berada di jalur yang tepat.

"Baru di titik awal, tapi sudah on the right track," katanya.

Selanjutnya, kata dia, pemerintah daerah masih harus bekerja keras untuk membangun infrastruktur pendukung industri pariwisata seperti jalan dan hotel.

"Dan tentu sumber daya manusia untuk melayani... Dalam pariwisata, sangat penting bagaimana kita membuat tamu merasa nyaman," katanya.

"Pariwisata adalah ilmu untuk menciptakan pengalaman bagi orang yang datang ke tempat kita," tambah dia.(*)


antara

Kemenparekraf Puji Inovasi Sport Tourism Banyuwangi

Banyuwangi - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu mengapresiasi kreativitas Pemkab Banyuwangi dalam mengelola sport tourism. Sport tourism bertajuk Pulau Merah International Surfing Competition 2014 dianggap mampu menjadi gerbang inovatif Banyuwangi untuk mengangkat pariwisata Banyuwangi.

"Pagelaran inisiatif daerah seperti Banyuwangi dalam mengemas pemasaran pariwisata dengan balutan olahraga dan event. Kalau kita kreatif pasti kita bisa sejahtera, sport tourism itu sangat bisa mengangkat Pariwisata yang bisa mengajak orang banyak untuk datang," kata Mari saat mengawali Pulau Merah Surfing Competition 2014 di Pulau Merah, Banyuwangi, Jumat (23/05/2014).

Mari memuji inisiatif daerah seperti Banyuwangi dalam mengemas pemasaran pariwisata dengan balutan olahraga dan event. Menurutnya, jika pariwisata di suatu daerah berkembang maka akan menimbulkan multiplay effect, diantaranya yaitu bertumbuhnya industry kreatif. Pariwisata dan industri ekonomi kreatif sangat erat hubungannya, sebab industri kreatif akan berkembang jika pariwisata berkembang.

"Banyuwangi ini salah satu daerah yang bisa menerapkan hal itu sangat baik. Serangkaian kegiatan yang membuat orang datang berkali kali terlebih lagi dengan adanya konektivitas yang mempermudah akses masuk ke Banyuwangi," imbuhnya.

Melihat komitmen Banyuwangi begitu getol mempromosikan pariwisata, Mari berjanji, kementeriannya akan mendorong semakin banyak daerah itu berinovasi mengembangkan sektor pariwisata. Kemenparekraf akan memfasilitasi promosi wisata daerah termasuk salah satunya di Banyuwangi.

"Prinsipnya, kita lihat komitmen dari daerah, apakah event wisatanya dari tahun ke tahun membaik, apakah konsisten, apakah kreatif. Contohnya Banyuwangi, ini rutin, meningkat kualitasnya, dan kreatif. Ada promosi berbasis Android, di destinasi wisata ada wifi, jadi Kemenparekraf akan support daerah-daerah seperti ini, akan didukung promosi di Jakarta dan internasional," kata Mari yang sempat membuka salah satu berita wisata di sebuah media online dan me-like berita tersebut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menuturkan, terkait sport tourism langkah ini cukup efektif untuk menarik perhatian wisawatan. Banyuwangi punya dua acara sport tourism, yaitu International Tour de Ijen dan International Surfing Competition. Kedua pergelaran itu cukup efektif mengatrol kunjungan wisatawan.

"Kami bersyukur kunjungan wisatawan terus meningkat, padahal dana promosi wisata minim, hanya sekitar Rp 2 miliar. Kami banyak menggandeng pihak lain untuk berpromosi, termasuk aktif di social media yang sangat cepat menyebarkan berbagai potensi destinasi wisata Banyuwangi," pungkas Anas.

detik

Bupati Banyuwangi larang pembangunan hotel melati

BANYUWANGI -Sejak dipimpin Abdullah Azwar Anas, Banyuwangi menjadi kabupaten yang berkembang pesat di sektor pariwisata. Pertumbuhan ekonomi berbasis wisata terus menggeliat menyemarakkan Bumi Blambangan, nama lain Banyuwangi.

Alhasil, di kalangan pengusaha pun banyak yang tertarik untuk mengembangkan bisnis perhotelan di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu. Terlebih lagi, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi, Marie Elka Pangestu, Banyuwangi sangat dekat dengan Pulau Dewata, Bali dan Surabaya, sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Timur.

"Banyuwangi sangat dekat dengan Bali dan Surabaya. Dan Pak Bupati (Abdullah Azwar Anas) begitu jeli menangkap potensi pariwisata di Bumi Blambangan ini. Pariwisata dan ekonomi kreatif bisa berkembang pesat di sini. Ini akan semakin menarik pariwisata yang langsung bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat," kata Marie Elka Pangestu saat membuka Banyuwangi Surfing International Competition di Pantai Pulau Merah, Jumat sore (23/5).

Sementara itu, Abdullah Azwar Anas sendiri yang telah membangun potensi Banyuwangi menjadi daerah pariwisata yang layak dikunjungi turis-turis baik mancanegara maupun lokal, tidak ingin bisnis prostitusi berkembang di daerahnya.

Sebab, kata dia, dengan perkembangan pariwisata yang begitu pesat, termasuk sektor perekonomian berbasis kerakyatan, akan menyedot perhatian banyak kalangan, termasuk potensi berdirinya tempat prostitusi. Terlebih lagi, sebentar lagi, lokalisasi Gang Dolly dan Jarak yang berada di Kota Surabaya akan ditutup oleh pemerintah setempat pada 19 Juni mendatang.

Sebagai daerah berkembang di sektor pariwisata, Banyuwangi tentu akan menjadi daerah alternatif yang menjadi jujugan para pengusaha prostitusi untuk mendirikan tempat-tempat hiburan maupun hotel melati.

"Dengan perkembangan industri pariwisata di Banyuwangi, akan banyak didirikan hotel-hotel kelas murah yang berpotensi dijadikan sebagai hotel esek-esek. Nah, untuk menghindari menjamurnya bisnis prostitusi di Banyuwangi, saya melarang didirikannya hotel-hotel melati. Minimal hotel bintang tiga yang boleh dibangun di Banyuwangi," kata Aswar Anas.

Sementara itu, agar pariwisata di Banyuwangi, khususnya di Pulau Merah, di Kecamatan Pasanggrahan, juga bisa dirasakan masyarakat sekitar, Azwar Anas menegaskan agar Pulau Merah steril dari bangunan hotel. "Hanya Home Stay milik warga sekitar yang diberdayakan. Tujuannya agar masyarakat bisa merasakan manfaat kepariwisataan di daerahnya. Hotel tidak boleh di bangun di sini (Pulau Merah), apalagi hotel melati yang berpotensi menjadi tempat prostitusi," tandas dia.

merdeka

Selasa, 13 Mei 2014

Ini Alasan Bupati Banyuwangi Izinkan Pembangunan Mal

http://images.detik.com/content/2014/05/12/1016/115440_anas.jpg
Banyuwangi -Kebijakan baru Bupati Banyuwangi, Jawa Timur Abdullah Azwar Anas mengizinkan pembangunan mal dan tempat hiburan di wilayahnya bukan tanpa alasan. Anas ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, kenaikan investasi, dan meningkatnya pendapatan per kapita di Banyuwangi.

Anas mengatakan selama hampir 20 tahun pendapatan per kapita per tahun Banyuwangi hanya bisa menyentuh angka Rp 15 juta/kapita/tahun. Jumlah itu tentu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan wilayah Jember dan Malang yang pendapatan per kapita-nya mencapai Rp 19,6 juta/tahun. Namun selama 2 tahun terakhir, jumlah pendapatan per kapita Jember dan Malang mampu dilampaui oleh Banyuwangi.

"Banyuwangi hampir 2 tahun ini sudah bisa mendahului pendapatan per kapita Jember dan Malang. Kini nilai pendapatan per kapita Banyuwangi lebih Rp 21,84 juta/kapita/tahun," kata Anas saat berbincang Senin (12/5/2014).

Pendapatan per kapita didorong dari nilai investasi yang masuk di Banyuwangi, pada tahun 2013 investasi di Banyuwangi naik 175% jika dibandingkan dengan periode 2012.

Misalnya pengembangan kawasan industri di Kampe Industrial Estate, Pabrik Gula terbesar Indonesia di Glenmore dan terus menggeliatnya sektor pariwisata juga akan menjadi pilar bagi terciptanya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan terciptanya banyak lapangan kerja.

"Nilai investasi kita mencapai Rp 3,2 triliun, atau meningkat hingga 175% dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,19 triliun," katanya.

DETIK

Kamis, 01 Mei 2014

Long Weekend, Pelabuhan Ketapang Dipadati Wisatawan

Banyuwangi - Libur panjang akhir pekan (Long Weekend) bertepatan dengan libur Paskah, Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi, dipadati wisatawan tujuan Bali. Rata-rata wisatawan menggunakan kendaraan roda dua, kendaraan kecil dan bus pariwisata.

Kepadatan Pelabuhan Ketapang meningkat sejak Kamis (17/4/2014) pukul 23.30 Wib. Puncaknya, arus kendaraan yang menyeberang ke Bali terjadi pukul 02.30 Wib, Jumat (18/4/2014). Beruntung tidak ada kemacetan yang terjadi lantaran naiknya jumlah penyeberang ke Bali tersebut.

"Kepadatan baru terurai sekitar pukul 09.00 WIB, lalu lintas sempat padat merayap. Kita sempat bantu petugas ASDP yang mengatur antrean untuk masuk ke kapal," ujar Kapolsek KP Tanjung Wangi Banyuwangi, AKP Subandi ditemui detikcom saat mengatur antrean penyeberangan di parkir pelabuhan.

Menurut Subandi, arus penyeberangan ini didominasi kendaraan jenis bus dan roda empat. Selanjutnya adalah jenis roda dua, yang mulai berdatangan pukul 06.00 Wib.

"Lalu lintas tidak macet. Sebab pelabuhan ASDP menyediakan areal parkir yang mencukupi," tambah Subandi.

Sementara itu, Manager Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Ketapang, Saharudin Kotto memprediksi arus penyebrangan ke Bali pada long weekend kali ini sekitar 5 hingga 10 persen. Peningkatan ini memang sering terjadi saat libur panjang seperti minggu ini. Namun menurutnya peningkatan ini masih terbilang normal.

"Dimungkinkan ada peningkatan 5 sampai 10 persen. Hal ini biasa jika terjadi long weekend. Kita sudah siapkan 29 kapal untuk melayani penyeberangan," ujarnya kepada sejumlah wartawan.